Islam Agama yang Sempurna

Islam Agama yang Sempurna

[judul_kh]

Membahas Berbagai Hal Dari Akar ke Daunnya

[jpshare]

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt. pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu diantara keduanya beserta semua keteraturannya. Dialah zat dimana semua jiwa ada di tangan-Nya, Dialah sebaik-baik tempat berharap dan sebaik-baik pembalas atas semua yang kita lakukan. Shalawat dan salam semoga senantiasa terus tercurahkan kepada manusia mulia dan agung sepanjang masa Muhammad rasulullah saw., kepada shahabatnya, keluarganya dan siapa saja yang terus setia memegang apa-apa yang beliau wariskan, yang pegangan itu lebih erat daripada genggaman tangan seorang bayi pada telunjuk ibunya, dan semoga kita semua termasuk didalamnya.

Saudaraku, ikhwan wal akhwat fil Islam, para syabab (pemuda) yang sangat kami cintai dan kami banggakan, yang perubahan terletak di tangan kita, perkenankanlah kami, manusia yang baru mengenal Islam, yang tentunya sebagai insan penuh khilaf dan kesalahan ini untuk sedikit menyampaikan tentang suatu hal yang amat tinggi, mulia dan besar tentang agama ini. Kami berharap saudara tidak merasa bosan ataupun digurui dengan tulisan ini karena kami dengan segala kelemahan hanya berharap risalah ini bisa membangkitkan semangat setiap muslim.

Ketahuilah wahai saudaraku, Islam adalah agama yang sangat sempurna, Islam tidaklah terbatas pada tuntunan agar kita sukses di akhirat, tetapi juga petunjuk sukses di dunia. Islam bukanlah agama ritual yang hanya mengatur ibadah mahdhah individu, tetapi ia pun adalah agama sosial yang mengatur masyarakat. Islam adalah satu-satunya agama sekaligus pandangan hidup (ideologi) bagi ummatnya. Islam adalah satu-satunya agama yang  memiliki mu’jizat hingga saat ini: al-Qur’an, yang tantangannya belum pernah ada yang menjawabnya hingga detik tulisan ini dibaca. Dan tak akan pernah bisa.

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (TQS al-Baqarah [2]:23-24)

Ada apa dengan Islam? kenapa agama yang begitu mulia, tinggi dan sempurna ini justru menjadi pesakitan? kenapa kemiskinan, kemerosotan moral, mahalnya biaya pendidikan, ketidakadilan, ketidakjujuran, kriminal, kecurangan, justru berada di kebanyakan negara kaum muslimin?
Padahal kita ingat dahulu kala Rasulullah menerapkan Islam di Madinah pada tahun 623 M yang bisa bertahan sampai tahun 1924 M dengan segala keluarbiasaannya, Sejarah tidak bisa berbohong bahwa abad keemasan umat muslim (Islamic golden age) pada saat kekhilafahan abbasiyyah dan awal kekhilafahan utsmaniyyah (750 M – 1500 M) telah menyatukan lebih dari 1/3 dunia, kekuasaan membentang dari sebagian eropa (andalusia/spanyol) hingga dataran balkan yang kekuatan laut maupun daratnya ditakuti di dunia. Dunia mengingat nama Muhammad al-Fatih (Muhammad II the Conqueror) pemimpin para pemuda yang kala itu berusia belum genap 23 tahun pada tahun 1452 M menaklukkan Konstantinopel (Byzantium) yang kala itu merupakan negara adidaya.

Juga tertulis dengan tinta emas dalam sejarah peradaban manusia karya besar pemikir dan saintis muslim seperti al-Khawarizmi dengan teori matematikanya, al-Kindi dengan pemikirannya, Ibnu Sina dengan ilmu kedokteran dan kesusasteraannya yang telah menulis Asas Pengobatan (Canons of Medicine) serta ilmu optik, Ibnu Khaldun dengan sejarahnya dan Ibnu Rusyd dengan fikihnya.

Pada pendidikan pun tak kalah hebatnya Imam Ad Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari Al Wadliyah bin Atha yang menyatakan bahwa di kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin Khatthab memberikan gaji pada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas) (sekitar 5 juta rupiah dengan kurs sekarang). Atau pada masa Khalifah Harun al-Rasyid dimana tidak ada warga negara yang miskin sehingga zakat bagi orang miskin tidak dibagikan.

Jelas sudah, bahwa sesungguhnya ada sesuatu dari Islam yang telah hilang. Sesuatu yang dengan sengaja dihilangkan oleh orang-orang yang tidak senang kepada Islam dengan segala daya dan upaya mereka. Sesuatu yang telah hilang inilah yang akhirnya menimbulkan ketakutan (phobia) yang luar biasa kaum muslimin terhadap Islam. Sesuatu yang telah hilang ini telah menjalarkan virus ketidakpercayaan dan ketakutan pengemban da’wah Islam untuk menyuarakan Islam yang mulia. Sesuatu yang telah hilang ini pun mengakibatkan pemuda-pemuda Islam akhirnya hidup kebanyakan tanpa tujuan yang jelas, mereka menjadi seorang ilmuwan tanpa agama dan menjadi ahli ibadah tanpa ilmu dunia, tertipu oleh paradigma berfikir yang diajukan oleh pemikir-pemikir yang benci kepada Islam: ingin dunia tinggalkan agama dan ingin agama tinggalkan dunia.
Sungguh upaya dan daya dari orang-orang dan kelompok-kelompok yang tidak senang dengan Islam telah menemui keberhasilan mereka. Mereka telah berhasil membuat kaum muslim berfikir bahwa agama Islam hanyalah ritual semata sehingga mereka bisa lega dari ketakutan mereka akan Islam kaaffah (ritual dan politis). Mereka telah berhasil membuat pandangan bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah bukanlah satu-satunya sumber rujukan kaum muslim tetapi hanya pilihan saja sehingga mereka bisa menjual standar, aturan dan nilai-nilai rendah mereka kepada kaum muslim. Mereka telah berhasil membuat kaum muslim merasa takut, ketinggalan zaman ketika mempelajari Islam sehingga mereka dapat selamat dari ketakutan mereka yaitu bersatunya kaum muslim dengan Islam kaffah. Mereka berhasil membius kaum muslim dengan budaya dan keindahan semu dunia sehingga mereka bisa tetap memeras kekayaan kaum muslim. Mereka telah berhasil membuat kaum muslim terpecah belah dengan oknum-oknum hasil didikan mereka sehingga mereka bisa selamat dari kekuatan kaum muslimin yang bersatu. Mereka berhasil membuat persepsi bahwa pengemban Islam adalah menakutkan dan tidak profesional sehingga kaum muslim yang belum mengerti berpaling dari para pengemban da’wah Islam.

Sungguh rasulullah yang kita cintai telah bersabda dalam khutbah beliau yang terakhir  (khutbah wada’) “Aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang tehguh kepadanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Sesuatu tersebut ialah sesuatu yang jelas yaitu Kitabullah (al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya (as-Sunnah)” .

Inilah sesuatu yang hilang dari Islam. Islam layaknya sebuah sistem yang tidak akan dapat berfungsi secara normal bila salah satu komponennya tidak diterapkan, apalagi hanya satu komponennya yang diterapkan. Inilah yang terjadi dengan Islam, kaum muslimin saat ini kebanyakan hanya mengambil sebagian daripada seruan-seruan Allah tetapi tidak mengambil sebagian yang lain. Dengan kata lain, penerapan Islam secara tidak sempurnalah yang membuat kondisi kaum muslim menjadi terpuruk. Allah berfirman dalam kitabnya dalam hal-hal seperti ini:

Apakah kamu beriman kepada sebahagian dari al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?  (TQS al-Baqarah [2]: 68)

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (TQS Ali Imran [3]: 85)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (TQS an-Nisaa’ [4]: 60)

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (TQS al-Maaidah [5]: 50)

Sebaliknya, penerapan Islam secara kaaffahlah yang membuat Islam menjadi satu-satunya ideologi yang disegani dan diperhitungkan di seluruh dunia. Ini dikarenakan karena Islam adalah agama sekaligus ideologi yang khas, yang mempunyai aturan di dalam semua aspek kehidupan, dan aturan itu bukanlah berasal dari manusia yang serba terbatas tetapi berasal dari zat mahasempurna dan maha mengetahui tentang ciptaan-Nya, Dialah Allah swt.

Pada hari ini telah Aku sempunakan din kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian, dan telah Aku ridhai Islam sebagai din kalian. (TQS al-Maidah [5]: 3)

Kami menurunkan kepadamu al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat mausia apa saja yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (TQS an-Nahl [16]: 44)

(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia dan supaya mereka diberi peringatan denganya. (TQS Ibrahim [14]: 52)

Kami telah menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) ini sebagai penjelas segala sesuatu; juga sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi kaum Muslim. (TQS an-Nahl [16]: 89)

Walhasil, dengan berbekal keyakinan yang tidak akan tergoyahkan bahwa Islam adalah agama sekaligus Ideologi yang paling benar serta sempurna, kami menyerukan kepada saudara-saudara kami setiap muslim yang benar-benar kami sayangi untuk kembali merujuk kepada yang telah Allah turunkan kepada kita yaitu al-Qur’an dan Sunnah rasul-Nya dalam memutuskan setiap perkara didalam kehidupan kita dan berusaha untuk menerapkan Islam secara kaaffah dalam batas-batas maksimal yang kita sanggupi. Kita harus selalu menyadari bahwa Islam adalah agama politik yang mempunyai aturan-aturan dalam hal pengurusan ummatnya yaitu bagaimana manusia berhubungan dengan sesamanya, selain dari agama ritual yang mengatur hubungan antara manusia dengan Allah dan manusia dengan dirinya sendiri.

Untuk menerapkan Islam secara kaaffah, maka cara yang ditempuh harus dengan melakukan pendidikan politis berbasis Islam secara intensif kepada setiap individu muslim sehingga terbentuk kepribadian Islam yang bercirikan pola pikir dan pola sikap yang Islami. Pendidikan politik inipun akan mengimbangi kecerdasan intelektual setiap mahasiswa dengan semakin tingginya kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, dan dua kecerdasan yang terakhir inilah yang jarang kita terima di dalam kuliah ataupun sekolah. Dan proses berkelanjutan seperti ini akan melahirkan individu-individu yang bertakwa kepada Allah, yang membangun ilmu sains dan teknologinya berdasarkan aturan yang telah diberikan sang pencipta untuk mereka dan dengan motivasi yang luar biasa.

Untuk menerapkan Islam secara kaaffah pada masyarakat, kita pun perlu untuk mengubah pemikiran-pemikiran yang ada pada masyarakat, perasaan-perasaan yang diadopsi mereka dan tentu saja aturan-aturan yang diterapkan masyarakat untuk diubah menjadi berdasarkan Islam yang kaaffah.

Untuk menerapkan Islam secara kaaffah, maka perlu juga untuk membentuk aliansi-aliansi dan forum-forum yang didalamnya terdapat tokoh-tokoh yang berpengaruh di masyarakat, organisasi yang berpengaruh di masyarakat, dimana aliansi ini yang turut menjaga usaha penerapan Islam secara kaaffah, selain itu adanya pembentukan jaringan ini akan turut membantu usaha sosialisasi bahwa Islam memiliki solusi dalam setiap permasalahan manusia.

Dalam penerapannya sistem pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk tiga hal pada diri setiap individu muslim, yaitu terbentuknya kepribadian Islam (shakshiyyah Islamiyyah), penguasaan akan pengetahuan-pengetahuan Islam berkaitan dengan pemecahan masalah kehidupan (tsaqafah Islamiyyah) dan penguasaan ilmu sains dan teknologi. Dalam penguasaan ilmu sains dan teknologi, maka Islam memandang hal tersebut adalah wajib kifayah bagi seluruh kaum muslim, yang jika kaum muslim lalai untuk menguasai ilmu sains dan teknologi termutakhir, dosa karena kelalaian itu adalah pada seluruh kaum muslimin sama seperti ketika mereka melalaikan kewajiban yang lain. Oleh karena itulah, penguasaan ilmu dan teknologi oleh kaum muslimin ini harus difasilitasi dan didahulukan lebih daripada kegiatan-kegiatan lain yang tidaklah wajib.

Demikianlah seruan dari kami kepada setiap muslim yang selalu rindu akan kebenaran dan memperjuangkan kebenaran itu. Saudara-saudaraku yang mulia, ini bukanlah langkah puncak kita, tetapi ini hanyalah langkah awal kita dalam memperjuangkan satu-satunya kebenaran yaitu Islam. Kami mengajak semua pemuda untuk berdiri, bersatu padu dan memperjuangkan satu-satunya yang layak untuk diperjuangkan yaitu Islam, untuk membenarkan perkataan rasul-Nya dan untuk menyambut seruan Allah swt. Dimana jika Islam diterapkan atas izin Allah, Allah akan memberikan berkah dari langit dan bumi serta mencarikan kita jalan keluar dari arah yang tidak kita duga-duga. Dan yang terpenting, kita akan termasuk barisan orang-orang mukmin yang memperjuangkan agama-Nya, yang telah disediakan oleh-Nya bayaran dan balasan yang tidak bisa disamai dengan apapun yang dapat diindera oleh manusia.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (TQS al-A’raaf [7]: 96)

…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (TQS at-Thalaaq [65]: 2-3)

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” (TQS al-Baqarah [2]: 25)

wallahu a’lam bi ash-shawab


Ustadz Yanwar

Belajar Kesungguhan Dari Tsumamah Bin Utsal Al Hanafi Ra.

Belajar Kesungguhan Dari Tsumamah Bin Utsal Al Hanafi Ra.

[judul_kh]

Oleh: Ust. Yuana Ryan Tresna

[jpshare]

Seorang pemuda pernah bertanya kepada al-Syaikh al-Qadhi Taqiyyuddin an-Nabhani rahimahullah terkait dengan kunci sukses dalam sebuah aktivitas. Kemudian beliau memberikan tiga pesan: (1) al-iman/al-tsiqah bil fikrah (keyakinan kepada fikrah/gagasan); (2) al-jiddiyyah (keseriusan dan kesungguhan mewujudkan gagasan); dan (3) al-mutaba’ah (monitoring aktivitas sampai terealisasi dengan benar).

Keyakinan pada gagasan yang dibawa adalah perkara yang amat penting. Contoh terbaik dalam ini adalah Rasulullah dan para shahabatnya. Mereka begitu yakin atas ajaran baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Sayyiduna Ali misalnya, saat berhadap dengan kafir Quraisy menyimpan satu keyakinan: bahwa saya akan mengalahkan kamu. Juga mentransfer keyakinan tersebut kepada lawan: bahwa kamu akan saya kalahkan. Kepercayaan diri ini akan terefleksi dalam tindakan.

Kesungguhan dalam mewujudkan fikrah juga bisa kita lihat dalam diri para shahabat Nabi. Termasuk diantaranga adalah Tsumamah bin Utsal al-Hanafi رضي الله عنه. Tulisan ini akan mengisahkan tentang kesungguhan beliau dalam mewujudkan keyakinannya.

Adapun monitoring terhadap aktivitas sampai benar-benar terwujud, nampak sekali dari bagaimana para shahabat memastikan setiap amanah bisa terwujud, termasuk saat menugaskan yang lain. Adalah sayyiduna Umar bin Khaththab رضي الله عنه yang benar-benar memonitor pelaksanaan tanggung jawab oleh pejabat negara yang diangkatnya.

Berikut adalah kisah tentang kesungguhan Tsumamah bin Utsal al-Hanafi رضي الله عنه.

//
Di tahun ke-6 hijriyah, Rasulullah ﷺ berniat memperluas wilayah cakupan dakwah. Beliau menulis delapan surat kepada raja-raja Arab dan Ajam. Nabi ﷺ mengirimkannya kepada mereka untuk menyeru mereka kepada Islam. Di antara orang yang mendapat surat Rasulullah ﷺ adalah Tsumamah bin Utsal al-Hanafi.

Tidak mengherankan karena Tsumamah adalah salah seorang pembesar orang-orang Arab di zaman jahiliyah. Salah seorang pemuka Bani Hanifah yang terpandang. Salah seorang raja Yamamah yang perintahnya senantiasa ditaati.

Tsumamah menerima surat Nabi ﷺ dengan sikap angkuh dan melecehkan. Dia menutup kedua telinganya rapat-rapat agar tidak mendengar dakwah kepada kebaikan dan kebenaran itu.

Ia bertekad membunuh Rasulullah ﷺ dan menggubur dakwahnya. Dia mulai mencari peluang untuk membunuh Nabi ﷺ sampai dia mendapatkan kesempatan itu.

Setelah gagal membunuh Rasulullah, Tsumamah mengincar para shahabat, sehingga dia berhasil menangkap beberapa orang dari mereka dan membunuh mereka secara brutal. Atas dasar itu, Nabi ﷺ menghalalkan darahnya dan mengumumkannya di hadapan para shahabatnya.

Tidak lama setelah itu Tsumamah berniat untuk menunaikan ibadah umrah, maka dia berangkat meninggalkan bumi Yamamah menuju Mekah, dia sudah membayangkan akan melaksanakan thawaf dan menyembelih kurban untuk berhalanya.

Ketika Tsumamah dalam perjalanan menuju Mekah di dekat kota Madinah, sebuah pasukan Rasulullah ﷺ yang sedang berpatroli di sekeliling Madinah, menyergap Tsumamah.

Pasukan ini menawannya, sementara mereka tidak mengenal siapa dia, pasukan ini membawanya ke Madinah, mengikatnya di salah satu tiang masjid, menunggu ﷺ yang akan melihat perkara tawanan ini dan menetapkan perintahnya padanya.

Ketika Nabi ﷺ pergi ke masjid, dan hampir masuk ke dalamnya, beliau melihat Tsumamah terikat di sebuah tiang, maka beliau bersabda, “Apakah kalian tahu siapa dia?”

Mereka menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.”

Beliau berkata, “Ini Tsumamah bin Utsal al-Hanafi, tawanlah dia dengan baik.”

Kemudian Rasulullah ﷺ pulang ke keluarga beliau dan bersabda, “Kumpulkanlah makanan lezat yang kalian miliki dan hidangkalah kepada Tsumamah bin Utsal.”

Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan agar unta beliau diperah di pagi dan sore hari lalu susunya disuguhkan kepada Tsumamah.

Semua itu dilakukan kepada Tsumamah sebelum Rasulullah ﷺ bertemu dengannya dan sebelumnya beliau berbicara kepadanya.

Selanjutnya Nabi ﷺ menemui Tsumamah, beliau ingin menyerunya kepada Islam secara perlahan, beliau bertanya kepadanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”

Dia menjawab, “Aku mempunyai kebaikan wahai Muhammad, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah (orang yang akan dituntut bela atas kematiannya), namun jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf kepada orang yang tahu berterima kasih. Jika kamu ingin harta, maka katakan saja niscaya kamu akan kami berikan apa yang kamu inginkan.”

Nabi ﷺ membiarkannya dalam keadaan demikian selama dua hari. Makanan dan minuman lezat selalu disuguhkan kepadanya, susu unta tetap diperah untuknya. Kemudian Nabi ﷺ menemuinya kembali, beliau bertanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”

Tsumamah menjawab, “Aku hanya mempunyai apa yang aku katakan sebelumnya. Jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf kepada orang yang tahu berterima kasih, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah (orang yang dituntut bela kematiannya). Jika kamu menginginkan harta, maka mintalah niscaya akan kami beri seberapapun yang kamu mau.”

Nabi ﷺ meninggalkannya, di hari berikutnya Nabi ﷺ datang lagi kepadanya, beliau bertanya kepadanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”

Dia menjawab, “Aku mempunyai apa yang telah aku katakan kepadamu. Jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf kepada orang yang tahu berterima kasih, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah (orang yang dituntut bela atas kematiannya). Jika kamu menginginkan harta, maka mintalah niscaya kami akan memberi seberapa saja yang kamu mau.”

Lalu Rasulullah ﷺ melihat para shahabatnya dan bersabda, “Lepaskan Tsumamah.” Maka mereka membuka ikatannya dan melepaskannya.

Tsumamah meninggalkan masjid Rasulullah ﷺ, dia berlalu sampai tiba di sebuah kebun kurma di pinggir Madinah dekat al-Baqi’ yang ada mata airnya. Tsumamah menghentikan kendaraannya di sana. Dia bersuci dengan menggunakan airnya secara baik, kemudian membalikkan langkahnya menuju masjid.

Begitu dia tiba di masjid, dia berdiri di hadapan sekumpulan orang dari kaum muslimin dan berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhaq di sembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.”

Selanjutnya Tsumamah menemui Nabi ﷺ dan berkata, “Wahai Muhammad, demi Allah di muka bumi ini tidak ada wajah yang paling aku benci melebihi wajahmu, namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, tidak ada agama yang paling aku benci melebihi agamamu, namun saat ini agamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah tidak ada negeri yang paling aku benci melebihi negerimu, namun saat ini ia menjadi negeri yang paing aku cintai.”

Kemudian dia menambahkan, “Dulu aku pernah membunuh beberapa orang dari shahabat-shahabatmu, apa yang harus aku pikul karenanya?”

Nabi ﷺ menjawab, “Tidak ada dosa atasmu wahai Tsumamah, karena Islam menghapus apa yang sebelumnya.”

Maka wajah Tsumamah berbinar, dia berkata, “Demi Allah, aku akan melakukan terhadap orang-orang musyrikin sesuatu yang jauh lebih berat daripada apa yang telah aku lakukan terhadap shahabat-shahabatmu. Aku meletakkan pedangku, jiwaku, dan orang-orangku demi membelamu dan membela agamamu.”

Kemudian Tsumamah berkata, “Ya Rasulullah, pasukanmu menangkapku, pada saat itu aku hendak melaksanakan umrah, menurutmu apa yang aku lakukan?”

Nabi ﷺ menjawab, “Teruskan umrahmu namun di atas syariat Allah dan rasul-Nya.” Lalu Nabi ﷺ mengajarkan manasik umrah kepadanya.

Tsumamah melanjutkan langkahnya untuk melaksanakan niatnya, dia tiba di lembah Mekah, maka dia berdiri mengangkat suaranya dengan lantang, “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika laka.”

Ia adalah muslim pertama di muka bumi yang masuk Mekah dengan bertalbiyah.

Orang-orang Quraisy mendengar suara talbiyah, maka mereka hamburan keluar penuh dengan kemarahan dan kekhawatiran, pedang-pedang ditarik dari sarungnya, mereka menuju sumber suara untuk membungkam pemiliknya yang telah mengganggu mereka.

Manakala orang-orang datang kepada Tsumamah, dia pun lebih meninggikan suara talbiyahnya sambil memandang mereka penuh dengan kebanggaan. Beberapa anak muda Quraisy berniat melepaskan anak panah kepadanya, namun para pemuka Quraisy mencegah mereka. Para pemuka Quraisy berkata, “Celaka kalian, apakah kalian tahu siapa orang ini? Dia adalah Tsumamah bin Utsal, Raja Yamamah, demi Allah, kalau kalian mencelakainya niscaya kaumnya akan memutuskan pengiriman gandum kepada kita, akibatnya kita akan mati kelaparan.”

Tsumamah mengatakan, “Aku bersumpah demi Ilah Ka’bah ini, setelah aku pulang ke Yamamah tidak ada lagi pengiriman sebiji gandum pun atau sebagian dari hasil buminya sebelum kalian semuanya menikuti Muhammad.”

Tsumamah bin Utsal melaksanakan umrah di hadapan orang-orang Quraisy seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ.

Dia menyembelih dam untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan untuk berhala-berhala. Setelah dia tiba di tengah kaumnya, dia memerintahkan mereka agar menahan gandum agar tidak dikirim kepada orang-orang Quraisy, mereka pun menaati dan mengikuti perintahnya, mereka menahan hasil bumi mereka dari orang-orang Mekah.

Embargo yang ditetapkan oleh Tsumamah atas Quraisy mulai berdampak terhadap mereka sedikit demi sedikit, harga makanan mulai melambung, kelaparan menyebar di kalangan masyarakat, kesulitan mendera mereka, sehingga mereka khawatir atas diri mereka dan anak-anak mereka akan mati kelaparan.

Pada saat itu mereka menulis surat kepada Rasulullah ﷺ yang isinya:

“Yang kami tahu tentangmu adalah bahwa kamu penyambung tali silaturahim dan memerintahkan untuk melakukannya. Namun sekarang kamu telah memutuskan rahim-rahim kami, kamu membunuh bapak-bapak kami dengan pedang, dan mematikan anak-anak kami dengan kelaparan. Tsumamah bin Utsal telah memutus pengiriman gandum sehingga hal itu menyulitkan kami. Jika kamu berkenan untuk menulis kepadanya agar dia mengirim apa yang kami perlukan, maka lakukanlah.”

Nabi ﷺ menulis kepada Tsumamah agar mengirimkan kembali gandum kepada orang Quraisy, maka dia pun melakukannya.

Tsumamah bin Utsal selama hidupnya tetap setia kepada agamanya, menjaga janjinya kepada Nabi ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ wafat dan orang-orang Arab mulai murtad meninggalkan Islam, baik sendiri-sendiri maupun berjamaah dan Musailamah muncul di antara Bani Hanifah menyeru mereka agar beriman kepadanya, Tsumamah menghadangnya, dia berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Hanifah, jauhilah perkara gelap yang tidak mempunyai cahaya ini. Demi Allah ia adalah kesengsaraan yang Allah tetapkan atas siapa yang mengambilnya dari kalian dan ujian bagi siapa yang tidak mengambilnya.”

Kemudian dia berkata, “Wahai Bani Hanifah, tidak berkumpul dua orang nabi dalam satu waktu. Bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang tiada Nabi sesudahnya, tiada nabi yang berserikat dengannya.”

Kemudian dia membacakan firman Allah Ta’ala:

“Haa Miim. Alquran ini diturunkan dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukumanNya yang mempunyai karunia. Tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia. Hanya keadaNyalah semua makhluk kembali.” (TQS. Ghafir: 1-3).

Kemudian Tsumamah bersama orang-orang yang masih memegang Islam dari kaumnya berperang melawan orang-orang murtad demi menegakkan jihad di jalan Allah dan meninggikan kalimat-Nya di muka bumi.
//

Semoga Allah membalas Tsumamah bin Utsal atas jasa baiknya kepada Islam dan kaum muslimin dengan kebaikan serta memuliakannya dengan surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa. Beliau adalah sosok muslim yang serius dan bersungguh-sungguh mewujudkan keyakinannya. Semoga terlahir banyak Tsumamah dari rahim umat ini. Aamiin.

Referensi:
Al-Ishabah, (I/203); Al-Isti’ab (I/203); dan al-Sirah an-Nabawiyah Ibnu Hisyam (II/86).

Penyambutan Tahun Baru Hijriah, Bid’ah?

Penyambutan Tahun Baru Hijriah, Bid’ah?

[judul_kh]

Oleh: Ust. Yuana Ryan Tresna

[jpshare]

Keistimewaan Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah bulan yang mulia, hal itu dikarenakan beberapa hal:

1. Bulan ini dinamakan Allah dengan “Syahrullah“, yaitu bulan Allah. Ini juga menunjukkan bahwa bulan tersebut mempunyai keutamaan khusus yang tidak dimilili oleh bulan-bulan yang lain.

Rasulullah SAW bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

2. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan yang dijadikan Allah sebagi bulan haram, sebagaimana firman Allah SWT:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan lanit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram.” (Q.S. at-Taubah :36).

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakrah, Nabi SAW bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqa’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab. Oleh karena itu bulan Muharram termasuk bulan haram.

3. Bulan ini dijadikan awal bulan dari Tahun Hijriah, sebagaimana yang telah disepakati oleh para sahabat pada masa khalifah Umar bin Khatthab ra. Tahun Hijriah ini dijadikan momentum atas peristiwa hijrah nabi Muhammad SAW.

Mendudukkan Konsep Bid’ah

Dalam konsep bid’ah, tidak semua perkara baru yang tidak dicontohkan oleh Nabi adalah bid’ah yang sesat. Batasan bid’ah saya ringkas menjadi ada 3 hal, sebagai berikut:

1. Perkara baru yang tidak ada contohnya di zaman Nabi (اختراع / احداث على غير مثال سابق)
2. Perkara baru tersebut bertentangan dengan syariat (مقابل الشرع)
3. Tambahan atau pengurangan tersebut yang menyelesihi syariat (زيادة ونقصان تخالف الشرع)

Tidak semua yang muncul di zaman setelah Nabi SAW adalah buruk. Banyak hal baik yang muncul di kemudian hari. Meskipun pada awalnya ditolak dan diingkari oleh sebagian orang. Namun bersamaan dengan berjalannya waktu, hal-hal baik tersebut semakin dirasakan manfaatnya.

Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani RH mengatakan,

فَمِمَّا حَدَثَ تَدْوِينُ الْحَدِيثِ ثُمَّ تَفْسِيرُ الْقُرْآنِ ثُمَّ تَدْوِينُ الْمَسَائِلِ الْفِقْهِيَّةِ الْمُوَلَّدَةِ عَنِ الرَّأْيِ الْمَحْضِ ثُمَّ تَدْوِينُ مَا يَتَعَلَّقُ بِأَعْمَالِ الْقُلُوبِ فَأَمَّا الْأَوَّلُ فَأَنْكَرَهُ عُمَرُ وَأَبُو مُوسَى وَطَائِفَةٌ وَرَخَّصَ فِيهِ الْأَكْثَرُونَ وَأَمَّا الثَّانِي فَأَنْكَرَهُ جَمَاعَةٌ مِنَ التَّابِعِينَ كَالشَّعْبِيِّ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَنْكَرَهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ وَطَائِفَةٌ يَسِيرَةٌ وَكَذَا اشْتَدَّ إِنْكَارُ أَحْمَدَ لِلَّذِي بَعْدَهُ

“Termasuk di antara perkara-perkara yang baru muncul adalah:
1. Kodifikasi (pembukuan) hadits.
2. Kodifikasi tafsir al-Quran.
3. Kodifikasi masalah-masalah fiqih yang lahir dari pemikiran semata.
4. Kodifikasi perkara-perkara yang berkaitan dengan hati (tazkiyatun nafs).

Poin no. 1 dulu ditolak oleh Umar (bin Khatthab), Abu Musa dan sejumlah sahabat lainnya. Tapi sebagian besar membolehkan. Sedangkan poin no. 2 dulu ditolak oleh sejumlah ulama Tabiin seperti asy Sya’bi. Sedangkan poin no. 3 dulu ditolak oleh Imam Ahmad dan sejumlah kecil ulama lainnya. Begitu juga poin-poin setelahnya sangat ditolak oleh Imam Ahmad. (Lihat Ibnu Hajar al Asqalani, Fathul Bari, 13/253)

Semua perkara di atas muncul setelah zaman Nabi SAW. Bukan hanya baik, justru perkara-perkara di atas sangat diperlukan oleh umat Islam yang hidup belakangan.

Imam Syafi’i RH mengatakan,

المحدثات ضربان ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه بدعة الضلال ، وما أحدث من الخير لا يخالف شيئا من ذلك فهذه محدثة غير مذمومة

“Perkara baru itu ada dua macam:
1. Perkara baru yang bertentangan dengan Quran, Sunnah, atsar atau ijma. Ini adalah bid’ah sesat.
2. Perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan salah satu dari hal-hal di atas, maka ini perkara baru yang tidak tercela.” (Lihat Imam Baihaqi, Manaqib Imam Syafi’i)

Terkait konsep sunnah dan bid’ah, silahkan merujuk kitab al-Sunnah wa al-Bid’ah yang ditulis oleh Sayyid Abdullah bin Mahfudz bin Muhammad al-Haddad. Beliau mengupas masalah ini dengan sangat jelas.

Jadi selama perkara baru tidak menyelisihi syariat dan masih dalam kerangka dalil umum, maka tidak bisa disebut bid’ah yang sesat, termasuk dalam hal ini adalah penyambutan tahun baru hijriah. Jadi dalam menyambut tahun baru hijriah tidak bisa dihukumi salah secara mutlak. Hukumnya boleh selama tidak ada kegiatan-kegiatan yang melanggar syariat. Bahkan bisa termasuk yang disukai dan bernilai pahala jika dilakukan dengan niat qurbah (mendekatkan diri kepada Allah).

Tidak Boleh Ada Unsur Tasyabbuh yg Diharamkan

Berikut adalah beberapa batasan agar tidak termasuk dalam bentuk tasyabbuh yang diharamkan:

Pertama, tidak boleh merayakan tahun baru hijriah sebagai sebuah hari raya. Hal itu seperti kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari bahwasanya ia berkata: “Hari Asyura adalah hari yang dimuliakan oleh Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya.” Dalam riwayat Al-Nasai dan Ibnu Hibban, Rasulullah bersabda, “Bedalah dengan Yahudi dan berpuasalah kalian pada hari Asyura.”. Hadits tersebut bukan perintah agar tidak boleh memanfaatkan momen Muharram, namun kita harus berbeda caranya dengan mereka.

Dalam Islam hari raya hanya ada dua, yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. Hal itu sesuai dengan hadits dari Anas bin Malik ra, bahwasanya ia berkata: “Rasulullah SAW datang ke kota Madinah, pada waktu itu penduduk Madinah merayakan dua hari tertentu, maka Rasulullah SAW bertanya: Dua hari ini apa? Mereka menjawab: “Ini adalah dua hari, dimana kami pernah merayakannya pada masa Jahiliyah. Maka Rasulullah SAW bersabda: “ Sesungguhnya Allah SWT telah menggantikannya dengan yan lebih baik: yaitu hari raya Idul Adha dan hari raya Idul Fitri. (HR Ahmad, Abu Daud dan Nasai)

Kedua, tidak boleh menjadikan tanggal 10 Muharram sebagi hari berkabung, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Syi’ah Rafidhah. Mereka meratapi kematian Husen bin Ali yang terbunuh di Karbela. Bahkan sejak Syah Ismail Safawi menguasai wilayah Iran, dia telah mengumumkan bahwa hari berkabung nasional berlaku di seluruh wilayah kekuasaannya pada tanggal 10 hari pertama bulan Muharram. Ritual meratapai kematian Husen ini dilakukan dengan memukul tangan-tangan mereka ke dada, bahkan tidak sedikit dari mereka yang menyabet badan mereka dengan pisau dan pedang hingga keluar darahnya, dan sebagian yang lain melukai badan mereka dengan rantai.

Ketiga, tidak boleh membuat atau mengikuti ritual yang mengandung unsur kesyirikan. Seperti di suatu tempat ada ritual kirab dan pelepasan kerbau bule, yang kemudian mereka berebut mengambil kotorannya, yang menurut keyakinan mereka bisa menyebabkan larisnya dagangan dan membawa berkah di dalam kehidupan mereka.

Keempat, tidak boleh melakukan penyambutan atau perayaan tahun baru hijriah yang menyelesihi syariat dan menyamai orang kafir. Hal itu seperti menyalakan lilin, meniup terompet, menyalakan kembang api, hura-hura dan membuat pesta khusus. Hal itu selain tiada guna juga termasuk tasyabbuh yang diharamkan. Nabi bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ.

“Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. al-Tirmidzi dan yang lainnya)

Juga,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Adapun berikut ini adalah beberapa aktivitas yang masih dalam cakupan yang dibolehkan oleh syariat berdasarkan dalil umum:

Pertama, menampakkan kebahagiaan (izh-har al-farhah) akan datangnya tahun baru, bersyukur kepada Allah, muhasabah, berdoa dan berdzikir. Berdoa dan muhasabah bisa dilakukan kapan saja, termasuk momen pergantian tahun. Hal ini boleh dilakukan. Bahkan itu merupakan bentuk menyelisihi orang kafir. Jika orang kafir merayakan dengan hura-hura, maka umat Islam dengan muhasabah dan berdoa.

Terkait perintah menyelisihi orang kafir, Nabi SAW beliau bersabda,

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

“Selisihilah kaum musyrikin, biarkanlah jenggot, pendekkanlah kumis” (HR. Bukhari dan Muslim)

Juga hadits Nabi yang lain,

خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَلَا خِفَافِهِمْ

“Selisihilah kaum Yahudi karena sesungguhnya mereka tidak pernah shalat dengan memakai sandal mereka dan tidak pula dengan khuf mereka” (HR. Abu Dawud).

Kedua, melakukan berbagai kebaikan dengan meniatkan untuk qurbah (mendekatkan diri pada Allah) dan syi’ar agama. Misalnya pawai dalam rangka izh-harul farhah (menampakkan kebahagiaan), tabligh akbar untuk mengenang momen hijrah Nabi dan shahabat, dan muhasabah akhir-awal tahun.

Syaikh Wahbah Az-Zuhailiy di dalam al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh (hlm. 166-167) menyebutkan kaidah masyhur dari pengarang kitab al-Ubab dalam madzhab Syafi’i,

للوسائل حكم المقاصد فإن قصدت للإعانة على قربة كانت قربة

“Sarana itu sesuai dengan tujuannnya. Jika sarana itu dimaksudkan untuk ibadah maka menjadi ibadah.”

Pawai dan tabligh akbar misalnya, selain sebagai bentuk kebahagiaan bagi seorang muslim, hal itu juga bernilai qurbah, yakni dalam rangka meninggikan syiar Islam. Tidak diragukan lagi bahwa pengajian, tabligh akbar, berdoa, muhasabah, menyiarkan Islam, dll., adalah kebaikan, kapanpun dilakukannya, termasuk momen 1 Muharram.

Pada bagian berikutnya saya akan terangkan terkait makna dan refleksi hijrah saat ini.

Muharram dan Renungan Hijrah

Nabi SAW bersabda,

كَانَ الْمُؤْمِنُونَ يَفِرُّ أَحَدُهُمْ بِدِينِهِ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَإِلَى رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَخَافَةَ أَنْ يُفْتَنَ عَلَيْهِ فَأَمَّا الْيَوْمَ فَقَدْ أَظْهَرَ اللهُ اْلإِسْلاَمَ وَالْيَوْمَ يَعْبُدُ رَبَّهُ حَيْثُ شَاءَ

Dulu ada orang Mukmin yang lari membawa agamanya kepada Allah dan Rasul-Nya karena takut difitnah. Adapun sekarang (setelah Hijrah) Allah SWT benar-benar telah memenangkan Islam, dan seorang Mukmin dapat beribadah kepada Allah SWT sesuka dia. (HR. Al-Bukhari).

Beberapa poin penting:

Pertama, pemisah antara kebenaran dan kebatilan; antara Islam dan kekufuran; serta antara darul Islam dan darul kufur.

Kedua, tonggak berdirinya daulah Islamiah untuk pertama kalinya. Dalam hal ini, para ulama dan sejarawan Islam telah sepakat bahwa Madinah setelah Hijrah Nabi SAW telah berubah dari hanya sebuah kota menjadi sebuah negara Islam.

Ketiga, awal kebangkitan Islam dan kaum muslim yang pertama kalinya, setelah selama 13 tahun sejak kelahirannya.

Di sebagian riwayat, peristiwa hijrah terjadi pada Jumat 12 Rabiul Awal 1 H, dimana pada hari itu rombongan Nabi SAW sampai di Madinah. Hal itu setelah Rasul SAW mendapat nushrah (pertolongan) dari penduduk Madinah, yakni setelah Baiat Aqabah II—dikenal sebagai baiat atas pemerintahan–, Madinah menjadi dar al-Islam secara de jure. Pasca-Rasulullah SAW wafat, pada tahun 638 M (17 H), khalifah Umar bin Khattab menetapkan awal pijakan penanggalan Islam adalah tahun dimana hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah

Adapun makna hijrah seraha syar’i adalah,

قَالَ ابْنُ الْعَرَبِيِّ الْهِجْرَةُ هِيَ الْخُرُوجُ مِنْ دَارِ الْحَرْبِ إلَى دَارِ الْإِسْلَامِ (سبل السلام ج.6 ص.128. نيل الأوطار ج.12 ص. 270. المجموع ج. 19 ص. 264(

Ibnu ‘Arabi berkata hijrah adalah keluar atau berpindah dari dari Negara yang diperangi/negara kufur ke negara Islam. (Subul al-Salam, juz 6, hlm. 128 dan Nail al-Authar, juz 12, hlm 270).

Maka, refleksi hijrah saat ini adalah:
1. Meninggalkan kekufuran dan dominasi kaum kafir menuju iman dan kekuasaan Islam; meninggalkan darul kufur menuju darul Islam; meninggalkan sistem jahiliyah menuju ideologi dan sistem syariah; meninggalkan kekalahan menuju kemenangan dan kemuliaan Islam; dan mengubah penindasan menjadi tebaran kerahmatan.
2. Seperti halnya hukum-hukum Islam yang lain, hijrah merupakan bagian integral dari ketaqwaan seorang Muslim kepada Allah SWT. Sebab, hijrah merupakan instrumen hukum yang ditetapkan untuk melindungi agama dan jiwa kaum Muslim dari ancaman musuh-musuhnya.
3. Atas dasar itu, aktualisasi hijrah dalam konteks sekarang harus dimaknai dengan perjuangan untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam dalam ranah individu, masyarakat, dan negara. Dengan kata lain, aktualisasi hijrah sekarang harus diwujudkan dengan cara berjuang menegakkan kembali kekuasaan Islam yang akan menjamin terlaksananya hukum hijrah itu sendiri.

Jadi kegiatan penyambutan 1 Muharram yang ditujukkan untuk mengingatkan kewajiban agung tersebut dan menyemangati kaum muslim akan sebuah aktivitas besar yang sudah pernah dicontohkan oleh Nabi dan shahabat beliau, adalah sebuah kebaikan yang juga besar.

Semoga Allah menghimpun kita dengan mereka semua, karena seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya,

Dalilnya adalah sabda beliau SAW,

المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seorang itu beserta orang yang dicintainya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Mas’ud)

Dalam riwayat lain,

وَلَا يُحِبُّ رَجُلٌ قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ

“Seseorang tidak akan mencintai suatu kaum kecuali akan dikumpulkan bersama mereka.” (HR. Thabarani, dari Ali)

Penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, hlm. 10/555:

قَوْلُهُ : (إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ) أَيْ: مُلْحَقٌ بِهِمْ حَتَّى تَكُونَ مِنْ زُمْرَتِهِمْ وبهذا يندفعُ إيراد أنَّ منازلهم متفاوتةٌ، فكيف تصحُّ المعيةُ؟! فيُقالُ إنَّ المعيةَ تحصلُ بمجرد الاجتماع في شيءٍ ما، ولا تلزمُ في جميع الأشياء، فإذا اتَّفقَ أنَّ الجميعَ دخلوا الجنةَ صدَقَتِ المعيةُ، وإنْ تفاوتَتِ الدرجاتُ)

Kalimat “Engkau bersama orang yang kamu cintai” maksudnya dipertemukan dengan mereka sehingga kamu menjadi golongan mereka.

Demikian, semoga bermanfaat.

[Yuana Ryan Tresna]

Bolehkah Wanita Muslimah Jadi Model Iklan Produk?

Bolehkah Wanita Muslimah Jadi Model Iklan Produk?

[judul_kh]

Oleh: Ust. Yuana Ryan Tresna

[jpshare]

Pertanyaan ini selalu berulang. Setelah ada jawaban, sering kali masih tidak puas. Mereka bertanya, “mana dalilnya?”. Bagi yang mengatakan boleh, karena menganggap tidak ada dalil yang mengharamkannya. Lantas apa yang disebut dengan dalil? Bagaimana memahami hukum dari dalil? Jangan-jangan penanya tidak paham pertanyaan dasar tersebut. Bisa jadi ia mengira nash itu selalu dapat dipahami secara manthuq atau secara tekstual menyatakan keharaman, dst. Padahal nash dapat dipahami juga secara mafhum bahkan ma’qul.

Jawaban atas pernyataan tersebut adalah haram bagi wanita bekerja dimana dalam pekerjaan tersebut dieksploitasi aspek kewanitaan atau feminitasnya, bukan aspek usaha atau tenaganya.

Dalam kutaib Ahkam al-Usrah fi al-Islam wa Dauruha fi al-Hufazh ‘ala al-Siyaj al-Ijtima’i li al-Mujtama’at yang merujuk kitab Muqaddimah al-Dustur Bab al-Nizham al-Ijtima’i disebutkan qaidah sbb:

يمنع كل من الرجل والمرأة من مباشرة أي عمل فيه خطر على الأخلاق، أو فساد في المجتمع

“Setiap dari pria dan wanita dilarang untuk melakukan pekerjaan manapun yang di dalamnya ada suatu yang membahayakan akhlaq (which could undermine the morals) atau kerusakan masyarakat (causes corruption in the society).”

Adapun dalil akan hal itu adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

روي عن رافع بن رفاعة قال: «وَنَهَانَا عَنْ كَسْبِ الأَمَةِ إِلاَّ مَا عَمِلَتْ بِيَدِهَا وَقَالَ هَكَذَا بِأَصَابِعِهِ نَحْوَ الْخبْزِ وَالْغَزْلِ وَالنفْشِ» أخرجه أحمد وصححه والحاكم

Diriwayatkan dari Rafi’ bin Rifa’ah, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kami dari pekerjaan seorang pelayan wanita kecuali yang dikerjakan dengan kedua tangannya (except that which she did with her hands). Beliau bersabda, “begini (dia kerjakan) dengan jari-jemarinya seperti membuat roti, menenun dan mengurai wol (bread-making, sewing, and inscribing).” (HR. Ahmad dan al-Hakim menetapkan keshahihannya).

Selanjutnya penulis kitab memberikan penjelasan sbb:

أي تمنع المرأة من كل عمل يقصد منه استغلال أنوثتها، وتباح لها باقي الأعمال. وهذا يفهم من الحديث من قوله: “إِلاَّ مَا عَمِلَتْ بِيَدِهَا”، أي مما يقصد منه استغلال جهدها، ومفـهومه منع استغلال أنوثتها. على أن القاعدة الشرعية (الوسيلة إلى الحرام محرمة) تمنع كل عمل يوصل إلى الحرام حتى ولو بغلبة الظن. والقاعدة الشرعية (الشيء المباح إذا أدى فرد من أفراده إلى ضرر يمنع ذلك الفرد وحده ويبقى الشيء مباحاً)، فهي تمنع كل شخص رجلاً كان أو امرأة من الاشتغال في عمل مباح للرجال والنساء إذا كان هذا الشخص بعينه يوصل اشتغاله في العمل إلى ضرر له، أو ضرر للأمة، أو ضرر للمجتمع أياً كان نوع هذا الضرر.

“Seorang wanita dilarang dari melakukan pekerjaan apapun yang dimaksudkan dari perkerjaan tersebut unsur eksploitasi aspek kewanitaan/feminitasnya (استغلال أنوثتها/ advantage of her femininity), dan boleh baginya melakukan pekerjaan lainnya. Hal ini dapat dipahami dari kalimat dalam hadits: “إِلاَّ مَا عَمِلَتْ بِيَدِهَا / except that which she did with her hands“, yang artinya pemanfaatan (eksploitasi) atas usaha (intended to benefit from her efforts). Dengan demikian dapat dipahami bahwa ini merupakan larangan memanfaatkan feminitas perempuan (the prohibition of taking advantage of her femininity).”

Demikian juga didasarkan pada kaidah syari’ah (Shari’ah principle):

الوسيلة إلى الحرام محرمة

“Perantara yang mengantarkan kepada keharaman adalah haram (the means to something forbidden is also forbidden)”

Berdasarkan kaidah tersebut, dapat dipahami larangan untuk melakukan setiap pekerjaan yang akan mengantarkan pada keharaman (prohibits any work that could lead to anything forbidden), meski itu bersifat dugaan kuat.

Juga kaidah syari’ah (Shari’ah principle):

الشيء المباح إذا أدى فرد من أفراده إلى ضرر يمنع ذلك الفرد وحده ويبقى الشيء مباحاً

“Suatu yang mubah ketika satu bagian dari perkara-perkara tersebut mengantarkan kepada dharar/bahaya (If one type of a permitted thing leads to harm), maka bagian itu saja yang terlarang, sedangkan bagian lainnya tetap mubah”

Berdasarkan kaidah ini juga dapat disimpulkan terkait larangan bagi setiap individu baik pria maupun wanita melakukan pekerjaan yang awalnya mubah (baik bagi pria maupu wanita), ketika seorang individu ini melakukan perkajaan yang dapat membahayakan bagi dirinya, bagi umat, atau bagi masyarakat, apapun jenis bahaya yang terjadi.

Catatan akhir

Hukum tersebut di atas bukan hanya berlaku untuk wanita, tetapi juga bagi pria, yakni seperti melakukan pekerjaan yang mengeksploitasi unsur maskulinitas secara erotis.

Hal ini harus menjadi perhatian para muslimah, desainer busana muslimah, perias pengantin, redaksi majalah, pemilik perusahaan iklan, dll. Jika perkara ini luput, maka akan menimbulkan dharar dalam interaksi pria dan wanita di tengah masyarakat. Fakta menunjukkan bahwa pekerjaan seperti model, front office, pramugari, sales promotion girl, senantiasa disyaratkan fisik-fisik tertentu bagi para wanita. Misalnya tinggi badan, bentuk tubuh, warna kulit, kecantikan, dsb. Penampilan tersebut akan menjadi daya tarik bagi pengunjung, pembeli atau pembaca. Inilah bentuk eksploitasi sisi feminitas atau kewanitaan muslimah yang diharamkan oleh syara’.

[Yuana Ryan Tresna]

#CatatanKelasUmmahat #KhadimusSunnahBandung

Ganti Istrimu

Ganti Istrimu

[judul_kh]

Adab Seorang Istri

[jpshare]
Pada suatu ketika, Nabi Ibrahim datang ke Mekkah untuk mengunjungi anaknya, yaitu Nabi Isma’il. Akan tetapi, Nabi Isma’il saat itu sedang tidak berada di rumah. Ia sedang pergi berburu. Nabi Ibrahim menemui istri Nabi Isma’il dan bertanya ke mana suaminya dan apa pekerjaannya.
Maka istri Nabi Isma’il menceritakan bahwa suaminya pergi berburu dan kehidupan mereka sangat sulit. Maka Nabi Ibrahim berkata kepadanya, “Apabila suamimu datang, sampaikan salam dariku dan katakan agar ia mengganti palang pintu rumahnya.”
Kemudian Nabi Ibrahim segera pulang. Tatkala Nabi Isma’il telah datang, ia seakan merasakan sesuatu, maka ia bertanya kepada istrinya.
Istrinya lalu bercerita, “Tadi ada seorang tua datang yang sifatnya demikian (ia menyebutkan sifat-sifat Nabi Ibrahim). Ia bertanya tentang engkau dan aku kabarkan kepadanya. Dia juga bertanya tentang kehidupan kita dan aku kabarkan bahwa sesungguhnya kita dalam kesulitan. Dia menitip salam untukmu dan mengatakan agar engkau mengganti palang pintu rumahmu.”
Maka Nabi Isma’il pun berkata, “Dia adalah ayahku, dan engkaulah yang dimaksud dengan palang pintu itu. Kembalilah engkau kepada orang tuamu (Nabi Isma’il menceraikan istrinya, ed.)!”
Kemudian Nabi Isma’il menikah lagi dengan wanita lain. Setelah itu, Nabi Ibrahim datang lagi pada waktu yan lain, dan Nabi Isma’il juga kebetulan sedang pergi berburu. Maka Nabi Ibrahim menemui istri Nabi Isma’il dan bertanya tentang Nabi Isma’il. Maka istrinya bersyukur kepada Allah dan juga menceritakannya.
Kemudian Nabi Ibrahim menanyakan tentang kehidupan mereka. Istri Nabi isma’il menceritakan bahwa kehidupan mereka penuh dengan nikmat dan kebaikan. Istri Nabi isma’il tersebut adalah seorang wanita yang baik, yang bersyukur kepada Allah dan juga kepada suaminya. Kemudian Nabi Ibrahim berkata kepadanya, “Jika suamimu datang, sampaikanlah salam kepadanya dan katakan kepadanya agar ia mengokohkan palang pintu rumahnya.”
Setelah itu, Nabi Ibrahim pun segera pulang.
Maka tatkala Nabi Isma’il pulang, ia bertanya kepada istrinya, “Apakah tadi ada yang mengunjungimu?
Istrinya menjawab, “Tadi datang kepadaku seorang tua yang keadaannya demikian….”
Nabi Isma’il bertanya, “Apakah ada sesuatu yang ia katakan kepadamu?”
Istrinya menjawab, “Dia bertanya kepadaku tentang dirimu, dan aku pun menceritakannya. Dan ia bertanya pula tentang kehidupan kita, maka aku sampaikan bahwa kita berada dalam kenikmatan, dan aku mengucapkan syukur memuji Allah.”
Nabi Isma’il bertanya lagi, “Kemudian apalagi yang ia katakan?”
Istrinya menjawab, “Ia menitipkan salam untukmu dan memerintahkannmu untuk mengokohkan palang pintu rumahmu.”
Nabi Isma’il lantas berkata, “Dia adalah ayahku, dan engkau adalah palang pintu itu. Ia memerintahkan agar aku tetap mempertahankanmu (sebagai istri).”
(HR. Al Bukhari no. 3364).
Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini:
Banyak berkeluh kesah kepada manusia adalah perbuatan tercela.
Jangan suka menceritakan aib keluarga, apalagi terhadap orang yang baru dikenal.
Bersyukur kepada Allah serta bersyukur kepada manusia adalah akhlak yang terpuji.
Termasuk sifat istri shalihah adalah bersyukur kepada Allah kemudian bersyukur kepada suaminya.
Cerpen: Teruslah Menangis

Cerpen: Teruslah Menangis

[judul_kh]

Oleh: Aif Saiful Ma’ruf

[jpshare]

Cahaya rembulan mengintip di antara dedaunan kelapa yang rimbun. orang-orang masih asyik menarik selimut, memupuk kisah dalam mimpi. bermalam di pulau kapuk lagi empuk.
Kala itu malam sunyi tak terhias kerlip bintang, menapaki cerita di setiap sudut malam, isak tangis seorang pemuda telah memecahkan keheningan. tak ada yang tahu kapan tetes pertama air matanya dan entah apa yang menyebabkan pemuda itu menangis.
Kepalanya tertunduk, isak tangisnya semakin mencekik, suara paraunya menerkam kegelapan malam. derai air mata yang tak kunjung surut, membuat matanya bengkak dan merah menggumpal.
‘krreeekk..’ seseorang menarik telinga pintu masjid itu, dialah Pa Idrus, marbot masjid. suara pintu itu tak mengusik pemuda itu sedikitpun. pemuda itu sangat menikmati tangisannya.

Jarum jam masih menunjukkan pukul. 03.55 WIB. masjid masih terasa hampa, hanya ada mereka berdua, pemuda yang sedang menangis dan Pa Idrus yang baru datang dengan perasaan yang tak karuan.
Pa Idrus terdiam seribu bahasa dengan penuh tanda tanya melihat pemuda itu. Ia perhatikan pemuda itu yang masih menundukkan kepala dengan kakinya yang tetap sila. kabut dan angin yang mulai berhembus dari laut ke darat mengangkat bulu punduk.

Didekatinya pemuda itu mencoba merasakn serta menghayati tangisan yang membuatnya merinding, menggetarkan kedua dengkulnya.
“Wahai anak muda, ada apa dengan dirimu?”
Pemuda itu masih terdiam, tak ada jawaban selain suara paraunya. hal itu membuat Pa Idrus semakin merinding, perasaannya tak enak. cemas meliputi dirinya, tergambar dari keringatnya yang mulai membasahi dahi. dipegangnya pundak pemuda itu seakan mengerti dengan semua yang terjadi.
“Wahai anak muda, ada apa dengan dirimu?” Tanya Pa Idrus kali kedua, pemuda itu mengangkat kepalanya, berat. matanya benar-benar sembab. pipinya berlinang air mata, bertanda kesedihan yang amat dalam.
“Wahai anak muda, ada apa dengan dirimu?” Tanya Pa Idrus kali ketiga, tapi pemuda itu masih membisu seribu jurus. IA hanya menyodorkan Al Qur’an yang ia pegang, terbasahi oleh derai air mata bak sungai efrat.. ditunjukkannya 1 ayat –Q.S Al Imron : 133-. ‘ini kah yang membuatnya menangis?’ hati Pa Idrus bertanya-tanya.
“Anak muda kenapa dirimu menangis? bukankah ayat ini memberitahu kepada kita bahwa surga itu luasnya seluas langit dan bumi? bukankah seharusnya kamu merasa gembira dan senang mendengarnya?” Tanya Pa Idrus keheranan. coba jawab seribu Tanya dalam hati.
Pemuda itu tampak menganga, member isyarat ingin menyatakan sesuatu. tubuhnya yang lemas tak berdaya, membuatnya kembali menundukkan kepala.
“Berbicaralah anak muda, istighfarlah…” pinta Pa Idrus sambil mengusap pundaknya.
“As… Astaghfirullah… aku menangis karena aku tahu bahwa surga seluas langit dan bumi…” jelasnya singkat.
“Lalu kenapa kamu menangis anak muda? bukankah hal ini adalah kabar gembira?” tegas Pa Idrus, heran mendengar jawaban pemuda itu.
“Aku taku…” suaranya terpotong dengan isak tangis histerisnya, ketakutan yang mencekam jiwanya benar-benar menghujam di hatinya.
“Kenapa anak muda?” Pa Idrus semakin mengkerutkan dahinya. dadanya kembang kempis terbawa oleh hembusan angin yang menusuk tulang.
“Aku takut… aku takut kakiku tak bisa berpijak di Surga yang seluas langit dan bumi itu!” tegas pemuda itu.
jawabannya seakan menepis semua pertanyaan Pa Idrus, tak ada lagi kata Tanya, yang ada hanyalah Pa Idrus yang termenung mendengar jawaban pemuda itu.
“Aku takut kakiku tak bisa berpijak di Surga, tak ada tempat untukku, meski surga itu seluas langit dan bumi.” pemuda itu kembali bercerita.
“Apakah akan ada tempat bagiku di Surga nanti? sementara selama di dunia ini aku tidak melakukan hal-hal yang diperintah oleh Pemilik Surga.” Pa Idrus semakin tertegun, mulutnya seakan terbungkam, tak ada respon.
“Di masa mudaku ini, aku banyak menghabiskan waktuku untuk bermaksiat. shalatpun aku masih belang bentong, padahal orang-orang yang rajin sholatpun belum tentu masuk Surga. Apalagi aku?… aku yang tak pernah mensyukuri nikmat yang telah Allah karuniakan kepadku, aku yang selalu menggunakan mata ini untuk hal-hal yang tak layak aku lihat, semisal melihat aurat yang bukan mahromku. Dan akupun memikirkan mereka, bagaimana nasib mereka? Ahh tidak… aku belum bisa memikirkan mereka, aku hanya memikirkan diriku sendiri” Pemuda itu bercerita angat lancar, tak seperti angin berhembus tanpa makna. Kata-kata yang keluar dari dalam nurani.
“Aku… aku yang tak pernah berbakti kepada orangtuaku, aku yang selalu menyakiti mereka, dan jarang sekali aku melukiskan senyum di wajah mereka. Lalu pantaskah anak durhaka sepertiku berpijak di surga yang luas itu? Padahal aku tahu, surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.” Pemuda itu teringat akan perbuatan yang telah ia lakukan kepada orangtuanya, tangisan itu semakin membludak lebih dahsyat dari bom atom Hiroshima dan Nagasaki, menghancurkan hatinya berkeping-keping, hingga trombositnya tak lagi terlihat, lebih kecil dari elektron. Sementara Pa Idrus masih berada di sampingnya termenung menikmati setiap kata yang diucapkan pemuda itu.
“Adakah tempat untuk kakiku berpijak? Sementara aku selalu menggunakan kaki ini menuju tempat yang tidak diridhoi Allah dan baru kali ini aku menginjakkan kaki ke masjid untuk shalat shubuh…” pemuda itu terus merangkum semua cerita kelam yang memekikkan hati, menghitamkan nurani lebih hitam dari black hole. Bagaikan kaca yang tertutup debu tebal mengeras, tersumbat kemaksiatan hingga keresahan selalu menyelimuti, membisukan lisan dari kalimat allah, membutakan mata dari cahaya cinta, menulikan hati dan pikiran dari sentuhan akhlaq rabbani.

Pemuda itu menatapi kedua kaki yang selalu mengiringinya serta menemani ajakkannya kemanapun ia pergi. Matanya yang masih berlinang air mata seakan menyaksikan api yang sedang menjilati kakinya, hampir-hampir memakan habis kedua kakinya.
“Akankah kakiku ini bisa berpijak di surga nanti? Ataukah aku akan memakai alas kaki yang akan membuat otakku mendidih dan pecah bagai nanah mendidih bercampur darah kembali menjadi sel-sel menjijikan?” dipegangnya kaki itu, ia usap penuh sesal.
“wahai anak muda, teruslah menangis selagi kamu di dunia ini, sebelum kamu menangis di akhirat nanti, karena sungguh takkan berarti lagi tangisan itu jika kau lakukan di akhirat.” Pa Idrus memberanikan diri untuk menasehati pemuda itu.
“wahai anak muda, allah itu Maha Pengampun, maka mohonlah ampunan kepadaNya dan bertaubatlah dengan taubatan nashuha. Dan bencilah dirimu jika kembali pada kerusakkan.”

Sejenak keadaan dalam masjid itupun menjadi tenang dan damai. Nyanyian-nyanyian jangkrik yang saling bersahutan mengisi suasana tak terusik, angin berlalu begitu saja melewati setiap celah.
“namun apakah Allah akan mengampuni hamba sepertiku? Aku yang selalu ingkar kepadaNya…”
“apakah engkau tidak percaya bahwa Allah Maha Pengampun?”
“A…a… aku… aku percaya… tapi…”
“yah, tapi jika engkau tidak memohon ampun kepadaNya dan engkau tidak berusaha memperbaiki dirimu, maka janganlah engkau harapkan lagi kenikmatan dan ampunan dariNya. Karena sungguh, Allah telah memberikan kesempatan kepadamu untuk bertobat. Lalu apalagi yang kan kau tunggu?”
Pemuda itu tertegun, terdiam, semua untaian kalimat dari Pa Idrus meresap ke dalam hati pemuda itu, bak drainase canggih milik jepang. Merobek penyakit hati yang membuat hatinya kotor.
“ketahuilah anak muda, Allah tidak akam merubah sikapmu, jika bukan dirimu sendiri yang merubahnya. Maka bersegeralah engkau menuju ampunanNya, selagi masih di dunia. Agar kakimu bisa kau pijakkan di surga yang seluas langit dan bumi.”
“lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Mandilah, bersihkan dirimu dan berwudhulah untuk mensucikan dirimu…” titah Pa Idrus halus.
Pemuda itu segera menghapus air matanya yang sedari tadi membanjiri pipinya. Ia langsung pergi ke tempat wudhu untuk membersihkan diri.

“Pa, aku sudah selesai dan aku sudah wudhu, sudahkah aku suci?” Dengan senyum manisnya pemuda itu memberitahu Pa Idrus yang sedang bersila. Dilihatnya bangunan masjid yang luas dan megah laksana gedung mencakar langit. Kaligrafi arab, satra terindah dizamannya terlukis indah di tembok. Namun yang dirasakannya hampa, masjid yang seluas itu hanya dihiasai oleh kaligrafi dan di depannya terpampang jam dan mimbar tempat khotib khutbah, tapi dimana orang-orang yang akan melaksanakan shalat shubuh? Ahh serasa padang sahara. Luas tak berpenghuni.
“anak muda, wajahmu kini terlihat berseri, tampak surga di wajahmu.”
“benarkah hal itu? Oh iya pa, dimana jamaah yang biasa melaksanakan shalat shubuh?”
“benar anak muda, aku melihatnya…” Pa Idrus menarik nafas panjangnya pelan-pelan.
“sebenarnya akupun merasa kasihan dengan masjid ini, masjid yang begitu megah, namun sedikit sekali orang yang beribadah di dalamnya. Sepertinya masjid ini selalu menangis dikala shubuh menyeru. Betul anak muda ia menangis, bahkan melebihi tangisanmu.” Pemuda itu terdiam. Tak pernah menyangka dengan kondisi yang ada.
“anak muda, sekarang sudah waktunya shalat shubuh, adzanlah!”
“Aku?” pemuda itu kaget, melotot bukan main, beruntung matanya tidak keluar.
“aku.. aku tidak bisa…”
“apakah kamu pernah adzan?”
“belum…”
“bagaimana kamu tau kamu bisa atau tidak, sementara kamu belum pernah mencoba? Ingatlah! Allah sekali-kali tidak akan pernah merubah keadaanmu jika bukan dirimu sendiri yang merubahnya.” Tukas Pa Idrus meyakinkan pemuda itu.

Diraihnya microphone oleh tangannya, dan tangan kiri menutupi telinga. Hatinya membaca sholawat terlebih dahulu, adzan shubuhpun berkumandang. Azam yang ia tancapkan semakin mantap, ia ingin berubah, dan bangkit dari kekelaman, ia yakin di ujung pesisir gelap kan ada mercusuar. Dan dia harus bangkit, bangkit bagaikan bangkitnya sang fajar.
Shalat shubuh pertama yang ia lakukan, menggetarkan masjid itu, hidayah Allah memancar di setiap penjuru lantunan takbir. Membakar kehinaan dan menggugurkan setiap dosa.
Kalimat “Laa ilaaha illallahu” yang berbisik dari balik bibirnya, sejukkan iman, tenangkan nurani, tangisan itu kini telah terealisasi dalam hidupnya. Tanda takut dan cinta kepadaNya yang Maha Besar.
“Wa’alaikum salam…”
“Ada apa anak muda?” Pa Idrus keheranan, sebab ia tak mendengarkan suara orang mengucapkan salam.
“seperti ada orang di luar pa..” sahut pemuda itu, yakin dengan yang ia dengar.
“Wa’alaikum salam…” pemuda itu kembali mendengar ucapan salam. “pa, dia mengucapkan salam lagi…”
“kalau begitu coba kau lihat..”
Pemuda itu segera menghampiri telinga pintu dan membukanya. Diliriknya kanan dan kiri, tak sebatang hidungpun ia dapati. Lalu ia putuskan untuk kembali masuk dan melanjutkan dzikirnya.
“wa’alaikum salam..” lagi-lagi suara itu ada.
“ada apa lagi anak muda?”
“ada orang yang mengucapkan salam lagi pa..” teka-teki itu semakin membuat mereka bingung dan tak mengerti.
“kalau begitu, biar aku yang melihatnya..”
Pa Idruspun tak mendapati sebatang hidung selain angin yang berlalu, tapi tiba-tiba Pa Idrus mencium wangi yang semerbak. Jelas sekali wangi yang ia cium itu bau kasturi. Dicarinya keluar asal bau itu, tapi tak ia temukan asal bau itu, lalu bau itu ia ciumi dan menunjukkan ke dalam masjid. Ia kembali ke dalam masjid itu, masih dilihatnya pemuda itu dalam keadaaan sila, mungkin sedang berdzikir. Pa Idrus lalu mencari asal bau itu ke setiap pelosok masjid, tak ia dapati kecuali ia cium dari pemuda itu. Yah, ternyata wangi itu berasal dari pemuda itu.
“jangan-jangan…” hatinya menebak-nebak.
“anak muda..” dipanggilnya pemuda itu. Tapi tak ada jawaban apapun. Lalu digoyangkannya badan pemuda itu, seketika tubuhnya roboh, pelan, menghantam bumi. Hampir mirip seperti robohnya tubuh Nabi Sulaiman.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…” Pa Idrus memejamkan mata pemuda itu. Wangi kasturi masih melekat di hidungnya. Begitu semerbak.
“Betapa indahnya kepergianmu anak muda. Engkau menghadapNya dalam keadaan khusnul khotimah. Air matamu telah menghantarkanmu pada kemuliaan. Andai saja malam ini kamu tidak menangis dan tidak menitikan air mata, lalu kamu malah terus berlaku maksiat, maka sungguh celakanya dirimu. Su’ul khotimah yang kan kau dapati. Namun Allah Yang Maha Rahman, telah menyelamatkanmu dan menghendaki kebaikan kepadamu, dan engkau menyambutnya dengan tangisan itu. Sungguh engkau termasuk orang-orang yang beruntung.” Tak dapat dielakkan, Pa Idrus meneteskan air mata, tersirat senyum di wajahnya. Syukur karena pemuda itu, kembali dalam keadaan baik. Ia bangunkan kesabaran dalam hatinya, sabar atas cobaan yang menimpanya karena kehilangan saudaranya ini. Pemuda itu.
“Selamat sejahtera anak muda, Allah terlalu merindukanmu, sehingga Ia memanggilmu begitu cepat. Kakimu kan berpijak di Surga anak muda. Kau pantas untuk itu.”

—

Tak ada yang pernah tau kapan kematian menjemput kita, dan tak ada yang pernah tau dalam keadaan seperti apa kematian itu menghampiri kita. Yang jelas, kematian itu selalu menemani kita di setiap waktu, saat kita dimana saja, dan detik demi detik yang telah kita lalui telah semakin mendekatkan kita kepada kematian itu. Dan jika waktu itu sudah datang, siapakah yang bisa mengundurkannya? Atau minimal menundanya 1 jam untuk memperbaiki diri? Tidak, waktu itu tak mungkin dipercepat atau diperlambat.

Tak ada yang bisa merubah diri kita, selain diri kita sendiri. Surga atau neraka tempat kembali kita, bukanlah ditentukan oleh orang lain, melainkan pilihan kita sendiri. Maka menangislah detik ini pula, dan teruslah menangis, lalu realisasikan tangisan itu dalam perubahan hakiki.. sebelum kita menangis meronta-ronta di akhirat kelak.
Akankah kaki kita berpijak di surga yang seluas langit dan bumi?
Ataukah kaki kita akan DIJILATI oleh api neraka, sampai kulit kita hangus, lalu diganti dengan yang baru, dijilat lagi kemudian hangus dan diganti lagi dan seterusnya seperti itu?
Semua adalah pilihan, pilihanmu ada di tanganmu. Tak ada yang pernah tau kapan waktu itu datang, yang jelas waktu itu kian mendekat, maka BERSIAPLAH!

Cerpen Karangan: Aif Saiful Ma’ruf
Nama asli : Aif Saiful Ma’ruf
Nama pena : Ma’ruf eL Mustanier

Renungan: Untuk Apa Saya Hidup di Dunia?

Renungan: Untuk Apa Saya Hidup di Dunia?

[judul_kh]

Sebuah Renungan Kehidupan

[jpshare]

” Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku..” (QS Adzdzariyat :56)

Pertanyaan penting yang kedua adalah untuk apa hidup. Mencari arti hidup adalah sangat penting. Siapapun yang tidak memiliki misi hidup, hidupnya akan terombang-ambing, tidak jelas, dan dipastikan tidak berarti. Hanya mereka yang memiliki misi hiduplah yang akan berarti dalam hidup, berarti buat dirinya , juga buat orang lain. Manusia tanpa misi bagaikan hewan , yang hanya hidup , karenya nyawanya ada. Hidup hewan tidak lebih berputar sekitar lahir, makan, cari makan, seksual, melahirkan anak, buang air ….

Manusia yang hidup tanpa misi bagaikan hewan. Inilah yang disindir oleh Allah SWT dalam Al Qur’an, mereka disebut bagaikan hewan , bahkan lebih dari hewan. Ciri mereka : tidak mau berpikir, meskipun sudah diberikan akal (qolbu). Tidak mau menggunakan mata untuk melihat kebenaran. Telinga seakan ditutup tidak mau mendengar kebenaran.

Persoalannya bagaimana cara manusia mencari misi hidupnya. Logikanya, yang paling tahu untuk apa kita hidup , tentu saja yang menciptakan kita, Allah swt. Allah-lah yang Maha Tahu, paling mengerti untuk apa kita hidup, untuk apa Dia menciptakan kita. Adalah sangat logis kalau kita mencari arti hidup dengan melihat firman Allah SWT di Al Qur’an. Dengan sangat jelas, Allah swt menyebutkan misi hidup utama kita adalah beribadah. Firman Allah swt : “” Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku..” (QS Adzdzariyat :56)”

Ibnu Abbas menafsirkan ayat di atas dengan: agar mereka (jin dan manusia) menetapi ibadah kepada-Ku. Ibn al-Jauzi menafsirkan ayat di atas dengan: agar mereka tunduk dan merendahkan diri kepada-Ku. (Zâd al-Masîr, 8/43). Maksud ayat di atas adalah agar mereka menjadi hamba Allah, melaksanakan hukum-Nya, dan patuh pada apa yang ditetapkan Allah kepada mereka (Ibn Hazm, Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwâ’ wa an-Nihal, 3/80). Inilah hakikat ibadah. Ibadah tidak lain adalah mengikuti dan patuh, diambil dari al-‘ubûdiyyah; seseorang hanya menyembah Zat Yang ia patuhi dan Yang dia ikuti perintah (ketentuan)-Nya (Ibn Hazm, al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm, 1/90).

Ringkasnya, makna ibadah adalah tunduk dan patuh kepada hukum-Nya. Inilah ibadah dalam pengertian yang luas, yakni taat kepada kepada seluruh aturan Allah swt. Taat kepada Allah artinya tunduk kepada seluruh aturannya. Mulai dari ibadah mahdoh seperti sholat, zakat, puasa, haji. Termasuk juga aspek mu’amalah seperti ekonomi, politik, keluarga, pendidikan.

Makna Ibadah diatas juga berarti merupakan penolakan terhadap seluruh aturan yang bukan berasal dari Allah SWT. Sebab, beribadah semata-mata kepada Allah SWT, artinya semata-mata diatur oleh hukum Allah SWT. Menjadikan hukum selain Allah sebagai hukum, berarti bermakna menyembah selain kepada Allah SWT.

Dengan demikian manusia yang punya misi hidup untuk beribadah, bukan hanya mengikuti Allah swt di masjid, di sajadah, di Baitul haram saat berhaji. Tapi juga saat di kantor, di kursi parlemen, di meja pengadilan. Orang punya misi ibadah karenanya tidak hanya rajin ibadah tapi juga tidak korupsi, tidak membuat kebijakan yang mensengsarakan rakyat. Dia bukan hanya melempar setan pada saat jumroh di Tanah Haram, tapi juga memusuhi setan di tanah air.

Misi hidup inilah yang nanti akan dituntut pertanggungjawabannya oleh Allah swt. Layaknya seorang presiden yang diberikan mandat oleh parlemen, setelah tugas selesai, yang memberikan mandat akan bertanyak kepada sang Presiden, sejauh mana dia telah melaksanakan mandat itu. Nasib presiden pun ditentukan apakah dia bisa bertanggungjawab atau tidak. Dengan ‘ibadah’ ini nanti juga akan menentukan nasib kita di Yaumil Akhir, meraih surga atau dicampakkan Allah Swt di neraka jahannam yang keras.

Misi hidup untuk beribadah inilah yang akan menghantarkan dia pada ultimate goal seorang muslim yakni meraih ridho Allah swt. Kerinduan puncak seorang muslim, saat Kekasih Tercintanya memanggil dengan penuh ridho, sementara diapun ridho kepada Allah swt.: Firman Allah SWT :

يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ(27)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً(28)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي(29)وَادْخُلِي جَنَّتِي

” Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jam’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” ( QS Al Fajr : 27-30)

Tanbihul Ghofilin

Imam Bukhori Muslim meriwayatkan dari Anas ra. Dari Rosulullah Saw. bahwa beliau pernah bersabda : ” Jenazah itu akan diikuti oleh tiga perkara, yakni keluarga,harta, dan amalnya. Yang dua perkara itu akan pulang, sedang yang akan tetap menemaninya hanya satu perkara. Keluarga dan hartanya akan pulang, sedangkan yang akan tetap menemaninya hanyalah amalnya,”

(dikutip dari buku Renungan Hidup Mantan Rocker Harry Moekty)

Baca Yang Lainnya: