[judul_kh]

Oleh: Aif Saiful Ma’ruf

[jpshare]

Cahaya rembulan mengintip di antara dedaunan kelapa yang rimbun. orang-orang masih asyik menarik selimut, memupuk kisah dalam mimpi. bermalam di pulau kapuk lagi empuk.
Kala itu malam sunyi tak terhias kerlip bintang, menapaki cerita di setiap sudut malam, isak tangis seorang pemuda telah memecahkan keheningan. tak ada yang tahu kapan tetes pertama air matanya dan entah apa yang menyebabkan pemuda itu menangis.
Kepalanya tertunduk, isak tangisnya semakin mencekik, suara paraunya menerkam kegelapan malam. derai air mata yang tak kunjung surut, membuat matanya bengkak dan merah menggumpal.
‘krreeekk..’ seseorang menarik telinga pintu masjid itu, dialah Pa Idrus, marbot masjid. suara pintu itu tak mengusik pemuda itu sedikitpun. pemuda itu sangat menikmati tangisannya.

Jarum jam masih menunjukkan pukul. 03.55 WIB. masjid masih terasa hampa, hanya ada mereka berdua, pemuda yang sedang menangis dan Pa Idrus yang baru datang dengan perasaan yang tak karuan.
Pa Idrus terdiam seribu bahasa dengan penuh tanda tanya melihat pemuda itu. Ia perhatikan pemuda itu yang masih menundukkan kepala dengan kakinya yang tetap sila. kabut dan angin yang mulai berhembus dari laut ke darat mengangkat bulu punduk.

Didekatinya pemuda itu mencoba merasakn serta menghayati tangisan yang membuatnya merinding, menggetarkan kedua dengkulnya.
“Wahai anak muda, ada apa dengan dirimu?”
Pemuda itu masih terdiam, tak ada jawaban selain suara paraunya. hal itu membuat Pa Idrus semakin merinding, perasaannya tak enak. cemas meliputi dirinya, tergambar dari keringatnya yang mulai membasahi dahi. dipegangnya pundak pemuda itu seakan mengerti dengan semua yang terjadi.
“Wahai anak muda, ada apa dengan dirimu?” Tanya Pa Idrus kali kedua, pemuda itu mengangkat kepalanya, berat. matanya benar-benar sembab. pipinya berlinang air mata, bertanda kesedihan yang amat dalam.
“Wahai anak muda, ada apa dengan dirimu?” Tanya Pa Idrus kali ketiga, tapi pemuda itu masih membisu seribu jurus. IA hanya menyodorkan Al Qur’an yang ia pegang, terbasahi oleh derai air mata bak sungai efrat.. ditunjukkannya 1 ayat –Q.S Al Imron : 133-. ‘ini kah yang membuatnya menangis?’ hati Pa Idrus bertanya-tanya.
“Anak muda kenapa dirimu menangis? bukankah ayat ini memberitahu kepada kita bahwa surga itu luasnya seluas langit dan bumi? bukankah seharusnya kamu merasa gembira dan senang mendengarnya?” Tanya Pa Idrus keheranan. coba jawab seribu Tanya dalam hati.
Pemuda itu tampak menganga, member isyarat ingin menyatakan sesuatu. tubuhnya yang lemas tak berdaya, membuatnya kembali menundukkan kepala.
“Berbicaralah anak muda, istighfarlah…” pinta Pa Idrus sambil mengusap pundaknya.
“As… Astaghfirullah… aku menangis karena aku tahu bahwa surga seluas langit dan bumi…” jelasnya singkat.
“Lalu kenapa kamu menangis anak muda? bukankah hal ini adalah kabar gembira?” tegas Pa Idrus, heran mendengar jawaban pemuda itu.
“Aku taku…” suaranya terpotong dengan isak tangis histerisnya, ketakutan yang mencekam jiwanya benar-benar menghujam di hatinya.
“Kenapa anak muda?” Pa Idrus semakin mengkerutkan dahinya. dadanya kembang kempis terbawa oleh hembusan angin yang menusuk tulang.
“Aku takut… aku takut kakiku tak bisa berpijak di Surga yang seluas langit dan bumi itu!” tegas pemuda itu.
jawabannya seakan menepis semua pertanyaan Pa Idrus, tak ada lagi kata Tanya, yang ada hanyalah Pa Idrus yang termenung mendengar jawaban pemuda itu.
“Aku takut kakiku tak bisa berpijak di Surga, tak ada tempat untukku, meski surga itu seluas langit dan bumi.” pemuda itu kembali bercerita.
“Apakah akan ada tempat bagiku di Surga nanti? sementara selama di dunia ini aku tidak melakukan hal-hal yang diperintah oleh Pemilik Surga.” Pa Idrus semakin tertegun, mulutnya seakan terbungkam, tak ada respon.
“Di masa mudaku ini, aku banyak menghabiskan waktuku untuk bermaksiat. shalatpun aku masih belang bentong, padahal orang-orang yang rajin sholatpun belum tentu masuk Surga. Apalagi aku?… aku yang tak pernah mensyukuri nikmat yang telah Allah karuniakan kepadku, aku yang selalu menggunakan mata ini untuk hal-hal yang tak layak aku lihat, semisal melihat aurat yang bukan mahromku. Dan akupun memikirkan mereka, bagaimana nasib mereka? Ahh tidak… aku belum bisa memikirkan mereka, aku hanya memikirkan diriku sendiri” Pemuda itu bercerita angat lancar, tak seperti angin berhembus tanpa makna. Kata-kata yang keluar dari dalam nurani.
“Aku… aku yang tak pernah berbakti kepada orangtuaku, aku yang selalu menyakiti mereka, dan jarang sekali aku melukiskan senyum di wajah mereka. Lalu pantaskah anak durhaka sepertiku berpijak di surga yang luas itu? Padahal aku tahu, surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.” Pemuda itu teringat akan perbuatan yang telah ia lakukan kepada orangtuanya, tangisan itu semakin membludak lebih dahsyat dari bom atom Hiroshima dan Nagasaki, menghancurkan hatinya berkeping-keping, hingga trombositnya tak lagi terlihat, lebih kecil dari elektron. Sementara Pa Idrus masih berada di sampingnya termenung menikmati setiap kata yang diucapkan pemuda itu.
“Adakah tempat untuk kakiku berpijak? Sementara aku selalu menggunakan kaki ini menuju tempat yang tidak diridhoi Allah dan baru kali ini aku menginjakkan kaki ke masjid untuk shalat shubuh…” pemuda itu terus merangkum semua cerita kelam yang memekikkan hati, menghitamkan nurani lebih hitam dari black hole. Bagaikan kaca yang tertutup debu tebal mengeras, tersumbat kemaksiatan hingga keresahan selalu menyelimuti, membisukan lisan dari kalimat allah, membutakan mata dari cahaya cinta, menulikan hati dan pikiran dari sentuhan akhlaq rabbani.

Pemuda itu menatapi kedua kaki yang selalu mengiringinya serta menemani ajakkannya kemanapun ia pergi. Matanya yang masih berlinang air mata seakan menyaksikan api yang sedang menjilati kakinya, hampir-hampir memakan habis kedua kakinya.
“Akankah kakiku ini bisa berpijak di surga nanti? Ataukah aku akan memakai alas kaki yang akan membuat otakku mendidih dan pecah bagai nanah mendidih bercampur darah kembali menjadi sel-sel menjijikan?” dipegangnya kaki itu, ia usap penuh sesal.
“wahai anak muda, teruslah menangis selagi kamu di dunia ini, sebelum kamu menangis di akhirat nanti, karena sungguh takkan berarti lagi tangisan itu jika kau lakukan di akhirat.” Pa Idrus memberanikan diri untuk menasehati pemuda itu.
“wahai anak muda, allah itu Maha Pengampun, maka mohonlah ampunan kepadaNya dan bertaubatlah dengan taubatan nashuha. Dan bencilah dirimu jika kembali pada kerusakkan.”

Sejenak keadaan dalam masjid itupun menjadi tenang dan damai. Nyanyian-nyanyian jangkrik yang saling bersahutan mengisi suasana tak terusik, angin berlalu begitu saja melewati setiap celah.
“namun apakah Allah akan mengampuni hamba sepertiku? Aku yang selalu ingkar kepadaNya…”
“apakah engkau tidak percaya bahwa Allah Maha Pengampun?”
“A…a… aku… aku percaya… tapi…”
“yah, tapi jika engkau tidak memohon ampun kepadaNya dan engkau tidak berusaha memperbaiki dirimu, maka janganlah engkau harapkan lagi kenikmatan dan ampunan dariNya. Karena sungguh, Allah telah memberikan kesempatan kepadamu untuk bertobat. Lalu apalagi yang kan kau tunggu?”
Pemuda itu tertegun, terdiam, semua untaian kalimat dari Pa Idrus meresap ke dalam hati pemuda itu, bak drainase canggih milik jepang. Merobek penyakit hati yang membuat hatinya kotor.
“ketahuilah anak muda, Allah tidak akam merubah sikapmu, jika bukan dirimu sendiri yang merubahnya. Maka bersegeralah engkau menuju ampunanNya, selagi masih di dunia. Agar kakimu bisa kau pijakkan di surga yang seluas langit dan bumi.”
“lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang?”
“Mandilah, bersihkan dirimu dan berwudhulah untuk mensucikan dirimu…” titah Pa Idrus halus.
Pemuda itu segera menghapus air matanya yang sedari tadi membanjiri pipinya. Ia langsung pergi ke tempat wudhu untuk membersihkan diri.

“Pa, aku sudah selesai dan aku sudah wudhu, sudahkah aku suci?” Dengan senyum manisnya pemuda itu memberitahu Pa Idrus yang sedang bersila. Dilihatnya bangunan masjid yang luas dan megah laksana gedung mencakar langit. Kaligrafi arab, satra terindah dizamannya terlukis indah di tembok. Namun yang dirasakannya hampa, masjid yang seluas itu hanya dihiasai oleh kaligrafi dan di depannya terpampang jam dan mimbar tempat khotib khutbah, tapi dimana orang-orang yang akan melaksanakan shalat shubuh? Ahh serasa padang sahara. Luas tak berpenghuni.
“anak muda, wajahmu kini terlihat berseri, tampak surga di wajahmu.”
“benarkah hal itu? Oh iya pa, dimana jamaah yang biasa melaksanakan shalat shubuh?”
“benar anak muda, aku melihatnya…” Pa Idrus menarik nafas panjangnya pelan-pelan.
“sebenarnya akupun merasa kasihan dengan masjid ini, masjid yang begitu megah, namun sedikit sekali orang yang beribadah di dalamnya. Sepertinya masjid ini selalu menangis dikala shubuh menyeru. Betul anak muda ia menangis, bahkan melebihi tangisanmu.” Pemuda itu terdiam. Tak pernah menyangka dengan kondisi yang ada.
“anak muda, sekarang sudah waktunya shalat shubuh, adzanlah!”
“Aku?” pemuda itu kaget, melotot bukan main, beruntung matanya tidak keluar.
“aku.. aku tidak bisa…”
“apakah kamu pernah adzan?”
“belum…”
“bagaimana kamu tau kamu bisa atau tidak, sementara kamu belum pernah mencoba? Ingatlah! Allah sekali-kali tidak akan pernah merubah keadaanmu jika bukan dirimu sendiri yang merubahnya.” Tukas Pa Idrus meyakinkan pemuda itu.

Diraihnya microphone oleh tangannya, dan tangan kiri menutupi telinga. Hatinya membaca sholawat terlebih dahulu, adzan shubuhpun berkumandang. Azam yang ia tancapkan semakin mantap, ia ingin berubah, dan bangkit dari kekelaman, ia yakin di ujung pesisir gelap kan ada mercusuar. Dan dia harus bangkit, bangkit bagaikan bangkitnya sang fajar.
Shalat shubuh pertama yang ia lakukan, menggetarkan masjid itu, hidayah Allah memancar di setiap penjuru lantunan takbir. Membakar kehinaan dan menggugurkan setiap dosa.
Kalimat “Laa ilaaha illallahu” yang berbisik dari balik bibirnya, sejukkan iman, tenangkan nurani, tangisan itu kini telah terealisasi dalam hidupnya. Tanda takut dan cinta kepadaNya yang Maha Besar.
“Wa’alaikum salam…”
“Ada apa anak muda?” Pa Idrus keheranan, sebab ia tak mendengarkan suara orang mengucapkan salam.
“seperti ada orang di luar pa..” sahut pemuda itu, yakin dengan yang ia dengar.
“Wa’alaikum salam…” pemuda itu kembali mendengar ucapan salam. “pa, dia mengucapkan salam lagi…”
“kalau begitu coba kau lihat..”
Pemuda itu segera menghampiri telinga pintu dan membukanya. Diliriknya kanan dan kiri, tak sebatang hidungpun ia dapati. Lalu ia putuskan untuk kembali masuk dan melanjutkan dzikirnya.
“wa’alaikum salam..” lagi-lagi suara itu ada.
“ada apa lagi anak muda?”
“ada orang yang mengucapkan salam lagi pa..” teka-teki itu semakin membuat mereka bingung dan tak mengerti.
“kalau begitu, biar aku yang melihatnya..”
Pa Idruspun tak mendapati sebatang hidung selain angin yang berlalu, tapi tiba-tiba Pa Idrus mencium wangi yang semerbak. Jelas sekali wangi yang ia cium itu bau kasturi. Dicarinya keluar asal bau itu, tapi tak ia temukan asal bau itu, lalu bau itu ia ciumi dan menunjukkan ke dalam masjid. Ia kembali ke dalam masjid itu, masih dilihatnya pemuda itu dalam keadaaan sila, mungkin sedang berdzikir. Pa Idrus lalu mencari asal bau itu ke setiap pelosok masjid, tak ia dapati kecuali ia cium dari pemuda itu. Yah, ternyata wangi itu berasal dari pemuda itu.
“jangan-jangan…” hatinya menebak-nebak.
“anak muda..” dipanggilnya pemuda itu. Tapi tak ada jawaban apapun. Lalu digoyangkannya badan pemuda itu, seketika tubuhnya roboh, pelan, menghantam bumi. Hampir mirip seperti robohnya tubuh Nabi Sulaiman.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…” Pa Idrus memejamkan mata pemuda itu. Wangi kasturi masih melekat di hidungnya. Begitu semerbak.
“Betapa indahnya kepergianmu anak muda. Engkau menghadapNya dalam keadaan khusnul khotimah. Air matamu telah menghantarkanmu pada kemuliaan. Andai saja malam ini kamu tidak menangis dan tidak menitikan air mata, lalu kamu malah terus berlaku maksiat, maka sungguh celakanya dirimu. Su’ul khotimah yang kan kau dapati. Namun Allah Yang Maha Rahman, telah menyelamatkanmu dan menghendaki kebaikan kepadamu, dan engkau menyambutnya dengan tangisan itu. Sungguh engkau termasuk orang-orang yang beruntung.” Tak dapat dielakkan, Pa Idrus meneteskan air mata, tersirat senyum di wajahnya. Syukur karena pemuda itu, kembali dalam keadaan baik. Ia bangunkan kesabaran dalam hatinya, sabar atas cobaan yang menimpanya karena kehilangan saudaranya ini. Pemuda itu.
“Selamat sejahtera anak muda, Allah terlalu merindukanmu, sehingga Ia memanggilmu begitu cepat. Kakimu kan berpijak di Surga anak muda. Kau pantas untuk itu.”

—

Tak ada yang pernah tau kapan kematian menjemput kita, dan tak ada yang pernah tau dalam keadaan seperti apa kematian itu menghampiri kita. Yang jelas, kematian itu selalu menemani kita di setiap waktu, saat kita dimana saja, dan detik demi detik yang telah kita lalui telah semakin mendekatkan kita kepada kematian itu. Dan jika waktu itu sudah datang, siapakah yang bisa mengundurkannya? Atau minimal menundanya 1 jam untuk memperbaiki diri? Tidak, waktu itu tak mungkin dipercepat atau diperlambat.

Tak ada yang bisa merubah diri kita, selain diri kita sendiri. Surga atau neraka tempat kembali kita, bukanlah ditentukan oleh orang lain, melainkan pilihan kita sendiri. Maka menangislah detik ini pula, dan teruslah menangis, lalu realisasikan tangisan itu dalam perubahan hakiki.. sebelum kita menangis meronta-ronta di akhirat kelak.
Akankah kaki kita berpijak di surga yang seluas langit dan bumi?
Ataukah kaki kita akan DIJILATI oleh api neraka, sampai kulit kita hangus, lalu diganti dengan yang baru, dijilat lagi kemudian hangus dan diganti lagi dan seterusnya seperti itu?
Semua adalah pilihan, pilihanmu ada di tanganmu. Tak ada yang pernah tau kapan waktu itu datang, yang jelas waktu itu kian mendekat, maka BERSIAPLAH!

Cerpen Karangan: Aif Saiful Ma’ruf
Nama asli : Aif Saiful Ma’ruf
Nama pena : Ma’ruf eL Mustanier