Adab Adalah Perhiasan

Adab Adalah Perhiasan

[judul_kh]

Oleh: Ust. Yuana Ryan Tresna

[jpshare]

Pencarian dan penguasaan terhadap ilmu yang tidak didahului dengan adab akan melahirkan petaka. Masalah terbesar bagi para pelajar dan ahli ilmu yang miskin adab adalah hilangnya keberkahan, munculnya kesombongan dan lalai dari amanah mengemban ilmu. Ini adalah musibah. Hal ini pula yang disampaikan oleh Syaikh al-Zarnuji ra. dalam memulai kitabnya, Ta’lim al-Muta’allim, bahwa di zamannya banyak orang yang sungguh-sungguh belajar namun tidak mendapat hasil berupa kemanfaatan ilmu.

Para ulama salaf shalih sangat memperhatikan pada masalah adab.[1] Mereka pun mengarahkan murid-muridnya mempelajari adab sebelum menggeluti suatu bidang ilmu dan menemukan berbagai macam khilaf (perbedaan pendapat) ulama. Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas ra. pernah menyatakan kepada seorang pemuda Quraisy, “Wahai putra saudaraku, pelajarilah adab, sebelum kamu belajar ilmu.”[2]

Itulah rahasia mengapa para ulama yang mengemban ilmu menjadi orang yang ‘alim lagi tawadhu’, berbuah dalam amal, dan jujur mengemban tanggung jawab pengajaran serta dakwah.

Definisi

Ibn Hajar al-Asqalani ra. menyatakan:

وَالْأَدَبُ اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا وَعَبَّرَ بَعْضُهُمْ عَنْهُ بِأَنَّهُ الْأَخْذُ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ

“Adab artinya menerapkan segala yang terpuji, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinisikan adab adalah menerapkan akhlak-akhlak yang mulia”[3]

Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah mengartikan adab dengan:

هُوَ عِلْمُ إِصْلاَحِ اللِّسَانِ وَالْخِطَابِ، وَإِصَابَةِ مَوَاقِعِهِ، وَتَحْسِيْنِ أَلْفَاظِهِ، وَصِيَانَتِهِ عَنِ الْخَطَأِ وَالْخَلَلِ

“Adab adalah ilmu untuk memperbaiki lisan, seruan, ketepatan dalam menempatkan pada posisinya, pemilihan kata yang baik dan tepat, serta menjaganya dari kesalahan dan cacat.”[4]

Banyak ulama lainnya yang mendefinisikan adab, yang pada muaranya adab adalah perhiasan pada perilaku dan lisan seorang muslim. Ia tumbuh subur dalam masyarakat Islam kala itu, dimana masyarakat Islam adalah sekumpulan individu yang memiliki pemikiran dan perasaan islami, serta ada aturan Islam yang mengikatnya. Oleh karenanya, kendati adab tidak ditunjukki langsung oleh dalil dalam perinciannya, namun ia adalah sesuatu yang masyru’ (disyariatkan).

Adab dan Ilmu

Dalil keharusan memiliki adab terhadap ilmu dan ulama adalah firman Allah Swt.:

وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ

“Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya” (QS. Al Hajj: 30).

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. Al Hajj: 32).

Nabi Saw. bersabda:

إنَّ اللهَ قال : من عادَى لي وليًّا فقد آذنتُه بالحربِ

“Sesungguhnya Allah berfirman: barangsiapa yang menentang wali-Ku, ia telah menyatakan perang terhadap-Ku” (HR. Bukhari).

Imam al-Syafi’i ra. mengatakan:

إن لم يكن الفقهاء العاملون أولياء الله فليس لله ولي

“Jika para fuqaha (ulama) yang mengamalkan ilmu mereka tidak disebut wali Allah, maka Allah tidak punya wali”[5]

Sudah menjadi perkara yang makruf, kalau posisi adab itu lebih dahulu dari pada ilmu. Ibn al-Mubarak menyatakan:

قَالَ لِيْ مَخْلَدُ بْنِ الْحُسَيْنِ: (نَحْنُ إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ الأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْحَدِيْثِ)

“Makhlad bin al-Husain berkata kepadaku, “Kami lebih membutuhkan banyak adab, ketimbang kebutuhan kami akan banyak hadits.”[6]

Muhammad bin Sirin menceritakan karakteristik Tabiin, “Mereka itu mempelajari tuntunan hidup (adab), sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”[7]

Imam Malik bin Anas juga menyatakan, “Hak yang menjadi kewajiban bagi siapa yang menuntut ilmu, agar dia memiliki penghormatan, ketenangan, dan rasa takut (kepada Allah). Hendaknya dia juga mengikuti jejak orang-orang sebelumnya.”[8]

Ibn an-Nakha’i mengatakan, “Mereka (generasi salaf), ketika mendatangi seseorang (ulama’) untuk mengambil ilmu darinya, maka mereka akan perhatikan perilakunya, shalat dan keadaannya, baru setelah itu mereka mengambil ilmu darinya.”[9]

Habib bin al-Syahid berkata, “Wahai anaku bersahabatlah dengan fuqaha dan ulama belajarlah dari mereka dan ambilah (keutamaan) adab-adab mereka, sebab hal itu lebih aku sukai dari pada (menghafal) banyak hadits”[10]

Adab terhadap Diri

Imam Ibnu Jama’ah al-Syafi’i dalam kitabnya, Tadzkirah al-Sami’ wa al-Mutakallim, menyebutkan 10 adab penuntut ilmu kepada dirinya sendiri. Tiga hal pertama dapat kita rincikan sebagai berikut:

Pertama, membersihkan penyakit hati. Hal pertama yang harus dilakukan penuntut ilmu adalah menghilangkan segala bentuk penyakit hati yang dapat menghalangi dipahaminya ilmu. Beliau menyebutkan:

أن يطهر قلبه من كل غش ودنس وغلّ وحسد وسوء عقيدة وخلق؛ ليصلح بذلك لقبول العلم وحفظه، والاطلاع على دقائق معانيه وحقائق غوامضه

“Membersihkan hati dari segala penyakit khianat, keburukan, dendam, hasud, buruk akidah dan akhlak; agar hati mampu menerima ilmu, menghafalnya, dan memahami kedalaman makna-makna dan hakikat rahasia-rahasianya”[11]

Kedua, meluruskan niat. Menuntut ilmu semata-mata karena Allah, untuk mendapatkan ridha dari Allah. Ilmu juga untuk diamalkan dan untuk menghidupkan serta menegakkan syariah. Dengan hidup dan tegaknya syariah, keberkahan ilmu akan terwujud secara kolektif. Beliau menjelaskan:

حسن النية في طلب العلم بأن يقصد به وجه الله تعالى والعمل به وإحياء الشريعة، وتنوير قلبه وتحلية باطنه والقرب من الله تعالى يوم القيامة والتعرض لما أعد لأهله من رضوانه وعظيم فضله.

“Niat yang baik dalam menuntut ilmu, hendaknya dia berniat dalam mencari ilmu untuk mengharap ridha Allah Ta’ala, beramal dengan ilmunya, menghidupkan syari’at, menyinari hati, menghiasi batin, mendekat kepada Allah ta’ala pada hari kiamat dan menghadap kepada apa yang Allah siapkan kepada pemilik ilmu berupa ridha Allah dan keagungan keutamaannya.”[12]

Ketiga, bersegera selagi masih muda dan tidak membuang waktu. Beliau menyebutkan:

أن يبادر شبابه وأوقات عمره إلى التحصيل ولا يغتر بخدع التسويف والتأميل

“Hendaknya seorang penuntut ilmu bergegas di masa mudanya dan di setiap umurnya untuk memperoleh ilmu. Janganlah tertipu dengan penundaan dan angan-angan.”[13]

Adab kepada Guru

Dasar adab kepada guru adalah firman Allah Swt. terkait pendidikan adab Nabi Khidr kepada Musa as. sebagai berikut:

قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? (QS. al-Kahfi: 66)

Imam Ibnu Jama’ah menyebutkan ada 13 adab yang harus diperhatikan secara seksama oleh para penuntut ilmu, tiga diantaranya adalah:

Pertama, mengikuti segala wasiat guru, karena ketundukannya kepada guru adalah kebaikan dan kemuliaan. Beliau menjelaskan:

أن ينقاد لشيخه في أموره ولا يخرج عن رأيه وتدبيره، بل يكون معه كالمريض مع الطبيب الماهر، فيشاروه فيما يقصده ويتحرى رضاه فيما يعتمده، ويبالغ في حرمته يتقرب إلى الله تعالى بخدمته، ويعلم أن ذله لشيخه عز، وخضوعه له فخر، وتواضعه له رفعة.

“Seorang penuntut ilmu hendaknya taat kepada gurunya dalam segala urusan dan tidak keluar dari pendapat dan pengaturan gurunya, bahkan ia bersama gurunya seperti pasien di hadapan seorang dokter yang terampil, ia bermusyawarah tentang apa yang ia maksud dan memilih yang terbaik atas keridhaanya. Hendaknya ia maksimal dalam menghormatinya dalam bentuk taqarrub kepada Allah dengan ber-khidmah kepadanya. Dan ia mengetahui bahwa kehinaannya kepada gurunya itu merupakan kemuliaan, ketundukannya kepada gurunya merupakan kebanggaan, dan ke-tawadhuaannya kepada gurunya itu merupakan keluhuran.”[14]

Kedua, memuliakan guru dan menjaga kehormatannya dengan sepenuh keikhlasan.

أن ينظره بعين الإجلال ويعتقد فيه درجة الكمال فإن ذلك أقرب إلى نفعه به، وكان بعض السلف إذا ذهب إلى شيخه تصدق بشيء وقال: اللهم استر عيب شيخي عني ولا تذهب بركة علمه مني.

“Seorang penuntut ilmu hendaknya melihat gurunya dengan pandangan penuh kehormatan dan percaya kepada gurunya dengan derajat kesempurnaan, karena hal itu lebih dekat baginya pada nilai manfaat. Sebagian salaf terbiasa apabila menghadap kepada gurunya, ia bersedekah dan berdo’a ‘Ya Allah tutuplah aib guruku dariku dan janganlah hilangkan keberkahan ilmunya dariku.”[15]

Ketiga, mengetahui keutamaannya gurunya dan menjaga haknya, karena hal ini bagian dari pintu keberkahan.

أن يعرف له حقه ولا ينسى له فضله، قال شعبة: كنت إذا سمعت من الرجل الحديث كنت له عبدًا ما يحيا

“Seorang penuntut ilmu hendaknya mengetahui hak gurunya dan tidak melupakan keutamaannya. Syu’bah berkata, “Apabila aku mendengar hadits dari seseorang maka aku menjadi budaknya selama hidupnya.”[16]

Adab kepada Ilmu yang Dipelajari

Imam Ibnu Jama’ah juga menjelaskan 13 hal yang merupakan adab penuntut ilmu terhadap ilmu yang dipelajari. Tiga hal di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, memulai belajar dari al-Quran, menghafalkan dan memahaminya. Beliau menyebutkan:

أن يبتدئ أولاً بكتاب الله العزيز فيتقنه حفظًا ويجتهد على إتقان تفسيره وسائر علومه، فإنه أصل العلوم وأمها وأهمها

“Hendaknya seorang penuntut ilmu mengawali dengan kitab Allah yang mulia, kemudian ia menguatkan hafalannya dan bersungguh-sungguh memahami tafsirnya dan seluruh ilmu-ilmunya. Karena hal itu adalah pokok segala ilmu, sumber segala ilmu, dan ilmu yang paling penting.”[17]

Kedua, belajar secara bertahap (mulai dari yang ringkas sampai yang luas), berusaha mengamalkan ilmu yang diperoleh, dan pada awal belajar tidak menyibukkan diri dalam medan perbedaan pendapat.

أن يحذر في ابتداء أمره من الاشتغال في الاختلاف بين العلماء أو بين الناس مطلقًا في العقليات والسمعيات؛ فإنه يحير الذهن ويدهش العقل، بل يتقن أولاً كتابًا واحدًا في فن واحدأو كتبًا في فنون إن كان يحتمل ذلك على طريقة واحدة يرتضيها له شيخه

“Hendaknya dia berhati-hati dalam permulaan belajarnya dari kesibukan mempelajari ikhtilaf para ulama dalam akal atau pendengaran. Karena hal itu akan membingungkan pikiran dan akalnya. Akan tetapi, mula-mula hendaklah ia memahami pada satu kitab dalam satu bidang ilmu atau beberapa kitab dalam berbagai bidang jika memungkinkan dalam satu metode yang direstui gurunya”[18]

Ketiga, setelah menghafal al-Qur’an dan memahaminya, bergegas mendengar periwayatan hadits dan mempelajari, karena hadits adalah salah satu sayap bagi seorang ‘alim dari sayap lainnya yakni al-Quran. Beliau melanjutkan:

أن يبكر بسماع الحديث ولا يهمل الاشتغال به وبعلومه والنظر في إسناده ورجاله ومعانيه وأحكامه وفوائده ولغته وتواريخه.

“Hendaknya dia bergegas untuk mendengar hadits, jangan lalai untuk selalu sibuk mempelajari hadits, ilmu-ilmunya, dan memperhatikan sanad-sanadnya, rawi-rawinya, makna-maknanya, hukum-hukumnya, faidah-faidahnya, bahasanya, dan sejarahnya.”[19]

Amanah Mengemban Ilmu

Ilmu adalah amanah. Oleh karenanya harus diwujudkan dalam amal dan penyebaran (dakwah). Belajar ilmu tidak boleh ditujukan untuk kepentingan dunia. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Pada diri penuntut ilmu, harus berkumpul tiga hal sekaligus: ilmu, amal, dan ikhlas. Sahl bin Abdillah al-Tustari menerangkan:

الدُّنْيَا كُلُّهَا جَهْلٌ مَوَاتٌ إِلَّا الْعِلْمَ مِنْهَا، وَالْعِلْمُ كُلُّهُ حُجَّةٌ عَلَى الْخَلْقِ إِلَّا الْعَمَلَ بِهِ، وَالْعَمَلُ كُلُّهُ هَبَاءٌ إِلَّا الْإِخْلَاصَ مِنْهُ، وَالْإِخْلَاصُ خَطْبٌ عَظِيمٌ لَا يَعْرِفُهُ إِلَّا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ حَتَّى يَصِلَ الْإِخْلَاصُ بِالْمَوْتِ

“Dunia ini seluruhnya adalah kebodohan dan kematian kecuali ilmu yang berada di dalamnya. Ilmu pun seluruhnya hanya akan menjadi penghujat kepada seluruh makhluk kecuali yang mengamalkannya. Amal pun seluruhnya hanya akan terhambur sia-sia kecuali yang dilandasi keikhlasan. Sedangkan keikhlasan adalah perkara besar yang tidak dapat diketahui kecuali hanya oleh Allah Swt, sehingga keikhlasan itu dibawa sampai mati.”[20]

Terakhir, selain berbuah dalam amal, ilmu juga harus disebarkan dalam pengajaran dan dakwah. Itulah yang diwasiatkan Imam Sufyan al-Tsauri ketika menjelaskan marhalah belajar, dan Imam Ibnu Jama’ah ketika mengulas niat menuntut ilmu sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Penuntut ilmu dan ahli ilmu yang benar cara memperolehnya tidak mungkin berdusta dengan apa yang dipelajari, seperti mencampuradukan hak dan batil, atau menyembunyikan kebenaran. Intelektual muslim yang memanipulasi atau menyembunyikan kewajiban berhukum pada hukum-hukum Allah, menerapkan seluruh syariah-Nya dan menegakkan khilafah, adalah mereka yang tidak jujur dengan apa yang dipelajarinya. Seorang ahli hikmah mengatakan:

إخفاء العلم هلكة وإخفاء العمل نجاة

“Menyembunyikan ilmu adalah kehancuran, sedangkan menyembunyikan amal adalah keselamatan.”[21]

Penutup

Demikianlah adab sebagai perhiasan dalam lisan dan perilaku, yang dengannya kemanfaatan dan keberkahan ilmu bisa diraih dan diwujudkan. Kita berlindung kepada Allah dari sifat yang digambarkan oleh Imam al-Munawi saat menjelaskan hadits terkait sifat orang munafik:

“Maksudnya yaitu orang yang banyak ilmu di lidahnya, tapi bodoh hati dan amalnya. Ia menjadikan ilmu sebagai profesi yang dengan itu ia mencari makan. Ia berpenampilan penuh wibawa untuk menarik perhatian orang. Ia mengajak orang lain kepada Allah tapi ia sendiri lari dari Allah. Ia mencela aib orang lain lalu melakukan perbuatan yang lebih buruk daripadanya. Ia menampakkan ibadah dan kekhusyukan di hadapan manusia tapi melakukan dosa-dosa besar di hadapan tuhannya saat sendirian bersama-Nya. Ia adalah seekor serigala yang memakai baju.” [22] []

Penulis adalah Mudir Ma’had Darul Hadits Khadimus Sunnah Bandung

===

[1] Lihat Abu Nu’aim, Hilyah al-Auliya’, juz 6, hlm. 361; al-Khathib al-Baghdadi, al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi, juz 1, hlm. 80.

[2] Lihat Abu Nu’aim, Hilyah al-Auliya’, juz 6, hlm. 330.

[3] Lihat Ibn Hajar, Fath al-Bari, juz 10, hlm. 400.

[4] Lihat Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, Madzariju as-Salikin, juz 2, hlm. 368.

[5] Lihat riwayat al-Baihaqi dalam Manaqib al-Syafi’i, dinukil dari al-Mu’lim, hlm. 21.

[6] Lihat al-Khathib al-Baghdadi, al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi, juz 1, hlm.80.

[7] Ibid, juz 1, hlm. 79.

[8] Ibid, juz 1, hlm. 156.

[9] Ibid, juz 1, hlm. 28.

[10] Lihat Ibnu Jama’ah, Tadzkirah al-Sami’ wa al-Mutakallim, hlm. 78.

[11] Ibid, hlm. 141.

[12] Ibid, hlm. 142.

[13] Ibid, hlm. 144.

[14] Ibid, hlm. 155.

[15] Ibid, hlm. 157.

[16] Ibid, hlm. 158.

[17] Ibid, hlm. 172.

[18] Ibid, hlm. 173.

[19] Ibid, hlm. 175.

[20] Lihat Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, juz 14, hlm. 397.

[21] Lihat Ibn Abdil Barr, Jami’ Bayan al-Ilm wa Fadhlih; al-Istidzkar, hlm. 143.

[22] Lihat Al-Munawi, Faidh al-Qadir, juz, hlm. 419.

Belajar Kesungguhan Dari Tsumamah Bin Utsal Al Hanafi Ra.

Belajar Kesungguhan Dari Tsumamah Bin Utsal Al Hanafi Ra.

[judul_kh]

Oleh: Ust. Yuana Ryan Tresna

[jpshare]

Seorang pemuda pernah bertanya kepada al-Syaikh al-Qadhi Taqiyyuddin an-Nabhani rahimahullah terkait dengan kunci sukses dalam sebuah aktivitas. Kemudian beliau memberikan tiga pesan: (1) al-iman/al-tsiqah bil fikrah (keyakinan kepada fikrah/gagasan); (2) al-jiddiyyah (keseriusan dan kesungguhan mewujudkan gagasan); dan (3) al-mutaba’ah (monitoring aktivitas sampai terealisasi dengan benar).

Keyakinan pada gagasan yang dibawa adalah perkara yang amat penting. Contoh terbaik dalam ini adalah Rasulullah dan para shahabatnya. Mereka begitu yakin atas ajaran baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Sayyiduna Ali misalnya, saat berhadap dengan kafir Quraisy menyimpan satu keyakinan: bahwa saya akan mengalahkan kamu. Juga mentransfer keyakinan tersebut kepada lawan: bahwa kamu akan saya kalahkan. Kepercayaan diri ini akan terefleksi dalam tindakan.

Kesungguhan dalam mewujudkan fikrah juga bisa kita lihat dalam diri para shahabat Nabi. Termasuk diantaranga adalah Tsumamah bin Utsal al-Hanafi رضي الله عنه. Tulisan ini akan mengisahkan tentang kesungguhan beliau dalam mewujudkan keyakinannya.

Adapun monitoring terhadap aktivitas sampai benar-benar terwujud, nampak sekali dari bagaimana para shahabat memastikan setiap amanah bisa terwujud, termasuk saat menugaskan yang lain. Adalah sayyiduna Umar bin Khaththab رضي الله عنه yang benar-benar memonitor pelaksanaan tanggung jawab oleh pejabat negara yang diangkatnya.

Berikut adalah kisah tentang kesungguhan Tsumamah bin Utsal al-Hanafi رضي الله عنه.

//
Di tahun ke-6 hijriyah, Rasulullah ﷺ berniat memperluas wilayah cakupan dakwah. Beliau menulis delapan surat kepada raja-raja Arab dan Ajam. Nabi ﷺ mengirimkannya kepada mereka untuk menyeru mereka kepada Islam. Di antara orang yang mendapat surat Rasulullah ﷺ adalah Tsumamah bin Utsal al-Hanafi.

Tidak mengherankan karena Tsumamah adalah salah seorang pembesar orang-orang Arab di zaman jahiliyah. Salah seorang pemuka Bani Hanifah yang terpandang. Salah seorang raja Yamamah yang perintahnya senantiasa ditaati.

Tsumamah menerima surat Nabi ﷺ dengan sikap angkuh dan melecehkan. Dia menutup kedua telinganya rapat-rapat agar tidak mendengar dakwah kepada kebaikan dan kebenaran itu.

Ia bertekad membunuh Rasulullah ﷺ dan menggubur dakwahnya. Dia mulai mencari peluang untuk membunuh Nabi ﷺ sampai dia mendapatkan kesempatan itu.

Setelah gagal membunuh Rasulullah, Tsumamah mengincar para shahabat, sehingga dia berhasil menangkap beberapa orang dari mereka dan membunuh mereka secara brutal. Atas dasar itu, Nabi ﷺ menghalalkan darahnya dan mengumumkannya di hadapan para shahabatnya.

Tidak lama setelah itu Tsumamah berniat untuk menunaikan ibadah umrah, maka dia berangkat meninggalkan bumi Yamamah menuju Mekah, dia sudah membayangkan akan melaksanakan thawaf dan menyembelih kurban untuk berhalanya.

Ketika Tsumamah dalam perjalanan menuju Mekah di dekat kota Madinah, sebuah pasukan Rasulullah ﷺ yang sedang berpatroli di sekeliling Madinah, menyergap Tsumamah.

Pasukan ini menawannya, sementara mereka tidak mengenal siapa dia, pasukan ini membawanya ke Madinah, mengikatnya di salah satu tiang masjid, menunggu ﷺ yang akan melihat perkara tawanan ini dan menetapkan perintahnya padanya.

Ketika Nabi ﷺ pergi ke masjid, dan hampir masuk ke dalamnya, beliau melihat Tsumamah terikat di sebuah tiang, maka beliau bersabda, “Apakah kalian tahu siapa dia?”

Mereka menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.”

Beliau berkata, “Ini Tsumamah bin Utsal al-Hanafi, tawanlah dia dengan baik.”

Kemudian Rasulullah ﷺ pulang ke keluarga beliau dan bersabda, “Kumpulkanlah makanan lezat yang kalian miliki dan hidangkalah kepada Tsumamah bin Utsal.”

Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan agar unta beliau diperah di pagi dan sore hari lalu susunya disuguhkan kepada Tsumamah.

Semua itu dilakukan kepada Tsumamah sebelum Rasulullah ﷺ bertemu dengannya dan sebelumnya beliau berbicara kepadanya.

Selanjutnya Nabi ﷺ menemui Tsumamah, beliau ingin menyerunya kepada Islam secara perlahan, beliau bertanya kepadanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”

Dia menjawab, “Aku mempunyai kebaikan wahai Muhammad, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah (orang yang akan dituntut bela atas kematiannya), namun jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf kepada orang yang tahu berterima kasih. Jika kamu ingin harta, maka katakan saja niscaya kamu akan kami berikan apa yang kamu inginkan.”

Nabi ﷺ membiarkannya dalam keadaan demikian selama dua hari. Makanan dan minuman lezat selalu disuguhkan kepadanya, susu unta tetap diperah untuknya. Kemudian Nabi ﷺ menemuinya kembali, beliau bertanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”

Tsumamah menjawab, “Aku hanya mempunyai apa yang aku katakan sebelumnya. Jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf kepada orang yang tahu berterima kasih, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah (orang yang dituntut bela kematiannya). Jika kamu menginginkan harta, maka mintalah niscaya akan kami beri seberapapun yang kamu mau.”

Nabi ﷺ meninggalkannya, di hari berikutnya Nabi ﷺ datang lagi kepadanya, beliau bertanya kepadanya, “Apa yang kamu miliki wahai Tsumamah?”

Dia menjawab, “Aku mempunyai apa yang telah aku katakan kepadamu. Jika kamu memberi maaf maka kamu memberi maaf kepada orang yang tahu berterima kasih, jika kamu membunuh maka kamu membunuh pemilik darah (orang yang dituntut bela atas kematiannya). Jika kamu menginginkan harta, maka mintalah niscaya kami akan memberi seberapa saja yang kamu mau.”

Lalu Rasulullah ﷺ melihat para shahabatnya dan bersabda, “Lepaskan Tsumamah.” Maka mereka membuka ikatannya dan melepaskannya.

Tsumamah meninggalkan masjid Rasulullah ﷺ, dia berlalu sampai tiba di sebuah kebun kurma di pinggir Madinah dekat al-Baqi’ yang ada mata airnya. Tsumamah menghentikan kendaraannya di sana. Dia bersuci dengan menggunakan airnya secara baik, kemudian membalikkan langkahnya menuju masjid.

Begitu dia tiba di masjid, dia berdiri di hadapan sekumpulan orang dari kaum muslimin dan berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhaq di sembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah.”

Selanjutnya Tsumamah menemui Nabi ﷺ dan berkata, “Wahai Muhammad, demi Allah di muka bumi ini tidak ada wajah yang paling aku benci melebihi wajahmu, namun sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, tidak ada agama yang paling aku benci melebihi agamamu, namun saat ini agamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah tidak ada negeri yang paling aku benci melebihi negerimu, namun saat ini ia menjadi negeri yang paing aku cintai.”

Kemudian dia menambahkan, “Dulu aku pernah membunuh beberapa orang dari shahabat-shahabatmu, apa yang harus aku pikul karenanya?”

Nabi ﷺ menjawab, “Tidak ada dosa atasmu wahai Tsumamah, karena Islam menghapus apa yang sebelumnya.”

Maka wajah Tsumamah berbinar, dia berkata, “Demi Allah, aku akan melakukan terhadap orang-orang musyrikin sesuatu yang jauh lebih berat daripada apa yang telah aku lakukan terhadap shahabat-shahabatmu. Aku meletakkan pedangku, jiwaku, dan orang-orangku demi membelamu dan membela agamamu.”

Kemudian Tsumamah berkata, “Ya Rasulullah, pasukanmu menangkapku, pada saat itu aku hendak melaksanakan umrah, menurutmu apa yang aku lakukan?”

Nabi ﷺ menjawab, “Teruskan umrahmu namun di atas syariat Allah dan rasul-Nya.” Lalu Nabi ﷺ mengajarkan manasik umrah kepadanya.

Tsumamah melanjutkan langkahnya untuk melaksanakan niatnya, dia tiba di lembah Mekah, maka dia berdiri mengangkat suaranya dengan lantang, “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika laka.”

Ia adalah muslim pertama di muka bumi yang masuk Mekah dengan bertalbiyah.

Orang-orang Quraisy mendengar suara talbiyah, maka mereka hamburan keluar penuh dengan kemarahan dan kekhawatiran, pedang-pedang ditarik dari sarungnya, mereka menuju sumber suara untuk membungkam pemiliknya yang telah mengganggu mereka.

Manakala orang-orang datang kepada Tsumamah, dia pun lebih meninggikan suara talbiyahnya sambil memandang mereka penuh dengan kebanggaan. Beberapa anak muda Quraisy berniat melepaskan anak panah kepadanya, namun para pemuka Quraisy mencegah mereka. Para pemuka Quraisy berkata, “Celaka kalian, apakah kalian tahu siapa orang ini? Dia adalah Tsumamah bin Utsal, Raja Yamamah, demi Allah, kalau kalian mencelakainya niscaya kaumnya akan memutuskan pengiriman gandum kepada kita, akibatnya kita akan mati kelaparan.”

Tsumamah mengatakan, “Aku bersumpah demi Ilah Ka’bah ini, setelah aku pulang ke Yamamah tidak ada lagi pengiriman sebiji gandum pun atau sebagian dari hasil buminya sebelum kalian semuanya menikuti Muhammad.”

Tsumamah bin Utsal melaksanakan umrah di hadapan orang-orang Quraisy seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ.

Dia menyembelih dam untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan untuk berhala-berhala. Setelah dia tiba di tengah kaumnya, dia memerintahkan mereka agar menahan gandum agar tidak dikirim kepada orang-orang Quraisy, mereka pun menaati dan mengikuti perintahnya, mereka menahan hasil bumi mereka dari orang-orang Mekah.

Embargo yang ditetapkan oleh Tsumamah atas Quraisy mulai berdampak terhadap mereka sedikit demi sedikit, harga makanan mulai melambung, kelaparan menyebar di kalangan masyarakat, kesulitan mendera mereka, sehingga mereka khawatir atas diri mereka dan anak-anak mereka akan mati kelaparan.

Pada saat itu mereka menulis surat kepada Rasulullah ﷺ yang isinya:

“Yang kami tahu tentangmu adalah bahwa kamu penyambung tali silaturahim dan memerintahkan untuk melakukannya. Namun sekarang kamu telah memutuskan rahim-rahim kami, kamu membunuh bapak-bapak kami dengan pedang, dan mematikan anak-anak kami dengan kelaparan. Tsumamah bin Utsal telah memutus pengiriman gandum sehingga hal itu menyulitkan kami. Jika kamu berkenan untuk menulis kepadanya agar dia mengirim apa yang kami perlukan, maka lakukanlah.”

Nabi ﷺ menulis kepada Tsumamah agar mengirimkan kembali gandum kepada orang Quraisy, maka dia pun melakukannya.

Tsumamah bin Utsal selama hidupnya tetap setia kepada agamanya, menjaga janjinya kepada Nabi ﷺ. Ketika Rasulullah ﷺ wafat dan orang-orang Arab mulai murtad meninggalkan Islam, baik sendiri-sendiri maupun berjamaah dan Musailamah muncul di antara Bani Hanifah menyeru mereka agar beriman kepadanya, Tsumamah menghadangnya, dia berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Hanifah, jauhilah perkara gelap yang tidak mempunyai cahaya ini. Demi Allah ia adalah kesengsaraan yang Allah tetapkan atas siapa yang mengambilnya dari kalian dan ujian bagi siapa yang tidak mengambilnya.”

Kemudian dia berkata, “Wahai Bani Hanifah, tidak berkumpul dua orang nabi dalam satu waktu. Bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang tiada Nabi sesudahnya, tiada nabi yang berserikat dengannya.”

Kemudian dia membacakan firman Allah Ta’ala:

“Haa Miim. Alquran ini diturunkan dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukumanNya yang mempunyai karunia. Tiada Ilah yang berhak disembah selain Dia. Hanya keadaNyalah semua makhluk kembali.” (TQS. Ghafir: 1-3).

Kemudian Tsumamah bersama orang-orang yang masih memegang Islam dari kaumnya berperang melawan orang-orang murtad demi menegakkan jihad di jalan Allah dan meninggikan kalimat-Nya di muka bumi.
//

Semoga Allah membalas Tsumamah bin Utsal atas jasa baiknya kepada Islam dan kaum muslimin dengan kebaikan serta memuliakannya dengan surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa. Beliau adalah sosok muslim yang serius dan bersungguh-sungguh mewujudkan keyakinannya. Semoga terlahir banyak Tsumamah dari rahim umat ini. Aamiin.

Referensi:
Al-Ishabah, (I/203); Al-Isti’ab (I/203); dan al-Sirah an-Nabawiyah Ibnu Hisyam (II/86).